Biaya Dana Bank Digital Diproyeksi Masih Tertekan hingga Akhir Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya dana atau cost of fund (CoF) bank digital diproyeksikan masih menghadapi tekanan hingga akhir tahun. Persaingan menghimpun dana masyarakat yang ketat membuat bank digital masih perlu menawarkan bunga deposito relatif tinggi. Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai, tekanan terhadap biaya dana bank digital masih akan berlanjut. Ketergantungan terhadap deposito berbunga tinggi menjadi salah satu faktor yang membuat biaya dana masih tertekan. "Menurut saya, biaya dana bank digital masih cenderung tertekan naik karena persaingan DPK tetap ketat dan ketergantungan pada deposito berbunga tinggi relatif besar," kata Trioksa kepada Kontan, Senin (21/9/2026). Adapun berdasarkan laporan keuangan bulanan masing-masing bank pada Senin (21/9), beban bunga sejumlah bank digital tercatat kenaikan hingga Juli 2026. Beban bunga Bank Jago naik 25,85% secara tahunan menjadi Rp 642,52 miliar. Krom Bank mencatat kenaikan 113,76% menjadi Rp 448,21 miliar. Sementara itu, beban bunga Amar Bank meningkat 97,19% menjadi Rp 95,33 miliar. Allo Bank juga mencatat kenaikan beban bunga 10,86% menjadi Rp 238,85 miliar.

Baca Juga: Biaya Dana Bank Digital Masih Tertekan hingga Akhir Tahun 2026 Trioksa memperkirakan kenaikan CoF hingga akhir tahun berlangsung secara bertahap dalam kisaran puluhan basis poin, bukan melonjak tajam. Bank digital yang memiliki CASA dan ekosistem transaksi yang kuat dinilai lebih mampu menahan tekanan kenaikan CoF dibandingkan bank yang masih bergantung pada deposito berbunga tinggi. Sementara itu, bunga deposito bank digital masih relatif tinggi. Mengutip situs resmi masing-masing bank pada Senin (21/9/2026), Allo Bank dan Krom Bank menawarkan bunga deposito hingga 8% per tahun. Amar Bank menawarkan bunga hingga 7% per tahun, sedangkan Bank Jago menawarkan bunga deposito hingga 6,25% per tahun.

Baca Juga: Begini Strategi Bank Digital dalam Menjaga NPL


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News