Biaya Dana Berpotensi Menekan Kinerja, Perbankan Atur Strategi Jaga Profitabilitas



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kompetisi likuiditas yang nampaknya bakal mulai sengit ke depan membayangi kinerja perbankan. Demi menjaring dana, bank menawarkan bunga tinggi yang pada gilirannya mendorong naik beban biaya dana (cost of fund/CoF).

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat rata-rata suku bunga simpanan perbankan naik menjadi 3,46% per Maret 2026, dari posisi 3,44% pada bulan sebelumnya. Pun, LPS memperkirakan penurunan suku bunga simpanan masih bakal turun terbatas ke depannya lantaran dinamika perebutan dana, khususnya di segmen simpanan besar dan korporasi, masih tinggi. Pada gilirannya, hal ini bakal menahan laju penurunan cost of fund perbankan. 

Dari sisi perbankan, Bank Negara Indonesia (BNI) melihat tren CoF berpotensi melandai di paruh kedua tahun mendatang. Toh, peningkatan sudah terjadi di awal tahun. BNI sendiri mencatatkan CoF di posisi 2,49% per kuartal I-2026, naik terbatas dari posisi 2,46% pada kuartal IV-2025 tetapi turun dari level 2,75% pada kuartal I-2025. 


Baca Juga: Transaksi Kartu Kredit Bank Mandiri Tumbuh 25% pada Kuartal I-2026

Direktur Keuangan BNI Paolo Kartadjoemena menyebut ruang penurunan CoF bank masih terbuka. Namun begitu, bank mencermati sejumlah katalis yang bisa mempengaruhi realisasinya nanti, di antaranya adalah kenaikan suku bunga dan penerbitan SRBI. Yang mana, keduanya bergantung pada daya tahan rupiah. 

Bila nilai tukar rupiah kian lemah, terdapat kemungkinan suku bunga acuan dinaikkan dan SRBI, yang notabenenya adalah alternatif masyarakat dalam memarkirkan likuiditas, diterbitkan dengan yiled yang lebih kompetitif. 

Pada gilirannya, ini berisiko mengikis minat masyarakat di deposito perbankan dan membuat bank perlu mematok bunga simpanan yang lebih tinggi untuk menjaga daya saing. Untuk mengantisipasi ini, Paolo bilang pihaknya kini berfokus pada penguatan dana murah ritel. 

BNI pun mencatatkan perkembangan positif dalam hal itu. Yang mana, hingga Maret 2026, pembukaan rekening tabungan naik 17% secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 27 juta, didorong oleh kuatnya adopsi aplikasi digital. 

Baca Juga: AAUI Nilai Pelemahan Rupiah Dapat Memberikan Dampak terhadap Bisnis Reasuransi

Secara bersamaan bank turut memperkuat customer engagement, yang mana itu tercermin dari nilai transaksi platform wholesale banking digital bank yang tumbuh 23% yoy. “Pertumbuhan ini didominasi oleh transaksi tabungan, sehingga cost of fund ikut turun,” jelas Paolo. 

Selain itu, jika suku bunga benar dinaikan, BNI justru melihat potensi berkuranganya gap repricing antara aset (kredit) dan liabilitas (DPK). “Sehingga berdampak positif terhadap NIM,” imbuhnya. 

Special Rate Masih Subur

Beban cost of fund perbankan juga kian berat dengan keberadaan suku bunga khusus alias special rate. LPS mencatat, lebih dari 30% simpanan perbankan masih memiliki suku bunga tinggi di atas tingkat bunga penjaminan (TBP). 

Menurut Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, pada dasarnya simpanan berbunga tinggi di perbankan diberikan berdasarkan hubungan dengan nasabah. “Nasabah punya banyak produk di bank sehingga bisa saja simpanan maupun kreditnya diberikan rate khusus,” jelasnya. 

Namun begitu, ia memastikan secara umum CIMB Niaga sangat disiplin dalam hal pricing. Pun, semua suku bunga khusus sudah tercermin di biaya dana perbankan. 

Baca Juga: BSI Raup Manfaat dari Program Pemerintah, Bisnis Bullion hingga KUR Tumbuh Positif

Meski simpanan dengan special rate tak mudah ditekan, Lani bilang sejak beberapa tahun terakhir pihaknya mengompensasi harga dengan fokus pada pendapatan komisi yang kini sudah berkontribusi lebih dari 30% terhadap total pendapatan bank. 

“Dengan begitu pendapatan bukan saja dari bunga yang terkena margin compression karena cost of fund tinggi,” katanya. 

Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) nampaknya kian getol membatasi simpanan berbunga khusus.

Retail Funding Division Head BTN Frengky Rosadrian mengungkapkan, hingga April 2026, porsi rekening dengan suku bunga di atas tingkat bunga penjaminan dari total deposito nasabah perorangan turun hingga 16% dibanding tahun sebelumnya. 

Frengky bilang capaian ini sejalan dengan upaya bank menjaga cost of fund, termasuk dengan meningkatkan konsentrasi di produk dana murah. Pun, ke depannya bank memperkuat basis dana murah sembari melakukan pricing dana yang lebih selektif dan terukur. 

“Meskipun simpanan berbunga tinggi akan tetap ada, namun porsinya diharapkan terus menurun secara bertahap seiring membaiknya kondisi likuiditas industri dan meningkatnya kontribusi dana murah,” jelas Frengky. 

Secara keseluruhan, pihaknya optimistis dapat mencapai pertumbuhan profitabilitas yang positif melalui kombinasi strategi peningkatan low cost CASA seperti akuisisi payroll, optimalisasi sektor SME, serta optimalisasi transaksi khususnya transaksi digital melalui Bale by BTN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News