KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan biaya dana di pasar domestik rupanya membuat korporasi harus memutar otak dalam mencari pendanaan. Menghadapi tren suku bunga dan imbal hasil (yield) yang masih tertahan di level tinggi, para emiten diproyeksikan bakal lebih berhati-hati meracik instrumen surat utangnya, terutama dengan memprioritaskan penerbitan bertenor pendek. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi memproyeksikan bahwa prospek obligasi korporasi pada kuartal IV 2026 sesungguhnya masih positif dengan aktivitas emisi yang mulai memperlihatkan sinyal pemulihan, meski lajunya akan tetap selektif.
Baca Juga: Kebutuhan Refinancing Jadi Motor Obligasi Korporasi, Emisi Bisa Tembus Rp 180 Triliun Geliat pemulihan ini tercermin dari nilai emisi pada September lalu yang menyentuh angka Rp 19,47 triliun. Angka ini melesat tajam apabila dikomparasikan dengan realisasi pada Agustus yang hanya tertahan di level Rp 7,87 triliun. Kendati demikian, Syafruddin mengingatkan bahwa tingginya biaya dana masih menjadi tembok pembatas bagi ruang gerak ekspansi perusahaan. Kondisi tersebut tidak lepas dari posisi suku bunga acuan BI yang ditahan pada level 5,75% alias lebih tinggi dari posisi 4,75% di awal tahun. Tekanan
cost of fund ini juga diperberat oleh imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang secara rata-rata merangkak naik 14,12 basis poin pada bulan kesembilan. "Kondisi ini mendorong emiten memilih tenor lebih pendek agar tidak mengunci biaya tinggi terlalu lama," kata Syafruddin kepada Kontan, Rabu (14/10/2026). Di tengah upaya adaptasi terhadap beban bunga tersebut, pasokan obligasi di pasar mayoritas masih disokong oleh perusahaan-perusahaan jasa keuangan. Hingga September 2026, realisasi penerbitan dari sektor multifinance tercatat mendominasi dengan capaian Rp 19,62 triliun. Di samping itu, perbankan juga turut meramaikan pasar dengan torehan emisi berkisar Rp 14 triliun pada periode yang sama, yang makin diperkuat dengan adanya mandat baru senilai Rp 6,1 triliun dari tiga bank. "Struktur ini menunjukkan dua mesin utama penerbitan adalah lembaga keuangan dan sektor padat modal," imbuh Syafruddin. Memasuki tahun 2027, kondisi pasar diyakini berpotensi tampil lebih perkasa ketimbang paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,29% pada Rabu (14/10), Waspadai Tekanan Jual dan Sentimen Global Namun, optimisme pemulihan volume tersebut akan sangat bergantung pada terkendalinya inflasi yang bisa membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunganya. Apabila yield SBN secara konsisten mulai melandai, korporasi dengan kualitas kredit mumpuni diyakini tak akan ragu untuk tancap gas melakukan pre-funding maupun pembiayaan kembali (refinancing). Sebaliknya, bila tekanan sentimen global masih mendominasi dan menggerus stabilitas nilai tukar rupiah, bursa surat utang memang akan tetap aktif, tetapi strategi merilis obligasi secara selektif dengan dominasi tenor-tenor pendek diproyeksikan akan tetap menjadi opsi primadona. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News