Biaya Energi Naik, India Peringatkan Risiko Pertumbuhan Akibat Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India menghadapi risiko penurunan perkiraan pertumbuhannya sebesar 7,0% hingga 7,4% untuk tahun fiskal berikutnya yang dimulai 1 April, karena biaya energi yang lebih tinggi dan gangguan pasokan yang berasal dari konflik Timur Tengah, menurut laporan ekonomi bulanan yang dirilis pada Sabtu (28/3/2026) seperti dilansir dari Reuters.

Konflik yang dimulai sebulan lalu setelah AS dan Israel menyerang Iran telah mengganggu jalur pengiriman utama yang dilalui oleh 20% minyak dunia, sehingga meningkatkan biaya energi dan pengiriman serta membebani rantai pasokan.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang inflasi dan pertumbuhan di India, menurut tinjauan pemerintah.


Baca Juga: Bank Sentral India Batasi Nilai Rupee untuk Memaksa Pembatalan Perdagangan Arbitrase

Data frekuensi tinggi untuk bulan April, dan mungkin Mei, seharusnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang prospek pertumbuhan untuk tahun fiskal baru, tulis kepala penasihat ekonomi India, V Anantha Nageswaran, dalam laporan tersebut.

Ia mengatakan defisit neraca transaksi berjalan, yang telah melebar menjadi 1,3% dari PDB pada kuartal Oktober-Desember tahun fiskal saat ini, akan memburuk secara signifikan pada tahun fiskal berikutnya.

India perlu memberikan bantuan segera dan terarah kepada bisnis dan rumah tangga yang paling terdampak dan rentan, kata laporan tersebut.

Baca Juga: Diplomasi Perang Iran, Pakistan Jadi Tuan Rumah Perundingan Arab Saudi, Turki & Mesir

Permintaan domestik sejauh ini relatif stabil, tetapi risiko terhadap pertumbuhan meningkat, terutama di sektor-sektor yang bergantung pada input impor.

Rupee India melemah menjadi sekitar 95 terhadap dolar AS pada bulan Maret di tengah arus keluar modal dan biaya impor yang lebih tinggi terkait dengan guncangan energi.

TAG: