Biaya kesehatan di Indonesia diprediksi naik 12% tahun depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya kesehatan di Indonesia diperkirakan meningkat 12% pada tahun 2021. Itu ditunjukkan oleh hasil survei bertajuk 2021 Global Medical Trends Survey yang dilakukan perusahaan konsultasi global Willis Towers Watson.

Willis Towers Watson mengumumkan hasil temuannya yang mengacu pada laporan mendalam tentang dampak ekonomi akibat Covid-19, serta penurunan biaya tunjangan perawatan kesehatan yang disponsori oleh pemberi kerja dan penundaan perawatan kesehatan non-darurat sebagai penyebab utama kenaikan yang diprediksi.

Survei menemukan, biaya tunjangan perawatan kesehatan untuk perusahaan asuransi medis swasta di Asia Pasifik akan mengalami penurunan signifikan di tahun 2020, yang diperkirakan akan pulih menjadi 8,5% pada tahun 2021, atau naik dari 6,2% tahun ini dan 7,5% di 2019.


Khususnya di Indonesia, situasi pandemi mengakibatkan penurunan penggunaan layanan kesehatan swasta secara nasional, yang selanjutnya menurunkan tren biaya kesehatan, dari 10,2% pada 2019 menjadi 10% tahun ini. Bersamaan dengan dipersiapkannya uji coba vaksin klinis, survei tersebut menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan biaya kesehatan hingga 12% pada 2021.

Baca Juga: Daftar layanan dan penyakit yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan

Dewita Anggraeni, Head of Health & Benefits Indonesia Willis Towers Watson  mengatakan, pandemi ini berdampak besar terhadap perlambatan tren biaya kesehatan yang semakin meningkat tahun ini, khususnya di Indonesia. Dengan situasi Covid-19, orang semakin menunda untuk menjalani operasi yang tidak mendesak dan berbagai prosedur elektif lainnya.

"Penurunan tren kesehatan juga dipengaruhi oleh meningkatnya pemanfaatan BPJS Kesehatan, terutama untuk penyakit kronis dan kritis, serta perawatan-perawatan lain yang biayanya sangat tinggi," jelas Dewita dalam keterangan resminya, Selasa (8/12).

Serupa dengan Indonesia, sebagian besar negara juga mengalami pertumbuhan biaya yang lebih rendah tahun ini. Namun, situasi ini diperkirakan hanya akan berlangsung sebentar dan pertumbuhan biaya ini diperkirakan akan pulih secara signifikan pada 2021.

 "Melihat situasi pandemi di satu negara dan negara lainnya yang jauh berbeda, kami memperkirakan fluktuasi biaya medis secara signifikan akan terjadi pada tahun 2021. Ketidakpastian lain yang terjadi sebagai akibat Covid-19 ialah kapan vaksin akan tersedia, siapa yang membayar atau menyediakannya, sejauh mana ketersediaannya, serta bagaimana pembagian biaya pengujian dan perawatan Covid-19 untuk tahun 2021, khususnya di antara pemerintah, perusahaan asuransi, dan pemberi kerja," kata Dewita.

Pengumpulan data  survei 2021 Global Medical Trends dilakukan sepanjang Juli hingga September 2020. Survei dilakukan terhadap 287 perusahaan asuransi terkemuka dari 76 negara dengan 29% respondennya berasal dari negara-negara Asia Pasifik.

Laporan tersebut menemukan bahwa hampir setengah dari perusahaan asuransi (49%) yang disurvei di Asia Pasifik memperkirakan kenaikan biaya medis akan tetap konstan selama tiga tahun ke depan, sementara 40% memperkirakan biaya yang akan terus meningkat.

Penyakit kanker (79%) menempati urutan pertama di antara tiga kondisi teratas yang mempengaruhi biaya kesehatan di Asia Pasifik, diikuti oleh penyakit kardiovaskular (76%) dan gangguan muskuloskeletal dan jaringan ikat (42%).

Seperti tahun sebelumnya, penggunaan layanan yang berlebihan oleh praktisi medis, serta terlalu banyak rekomendasi perawatan kesehatan dikutip sebagai salah satu pendorong biaya paling signifikan, menurut survei yang dilakukan pada 75% responden. Di saat yang bersamaan, lebih dari setengah responden (55%) juga melihat bagaimana anggota yang diasuransikan menggunakan perawatan secara berlebihan, yang menyebabkan biaya kesehatan semakin naik.

Selain itu, temuan tersebut juga melihat tiga faktor teratas yang mempengaruhi biaya perawatan kesehatan dan berada di luar kendali pemberi kerja dan vendor. Motif mencari keuntungan dari penyedia layanan kesehatan muncul di tempat pertama, seperti disampaikan oleh 52% responden, diikuti oleh pengeluaran yang lebih tinggi untuk teknologi medis (49%) dan pengendalian serta pengobatan selama epidemi dan pandemi global (37%).

"Pandemi telah sangat meningkatkan kesadaran individu akan kesadaran dan kebersihan perawatan kesehatan pribadi. Situasi ini juga semakin mempercepat adopsi dan penggunaan telehealth, yang dapat membantu mengimbangi potensi biaya yang lebih tinggi dengan cara yang lebih efisien bagi mereka yang diasuransikan, untuk mengakses dan menggunakan perawatan kesehatan di masa mendatang." ujar Dewita.

Selanjutnya: ​Korban PHK tak perlu bayar iuran BPJS Kesehatan selama 6 bulan, ini ketentuannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat