Biaya Lebih Murah, Multifinance Kian Andalkan Obligasi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan porsi pendanaan perusahaan multifinance yang bersumber dari instrumen obligasi masih memiliki ruang besar untuk terus meningkat ke depan.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan, prospek tersebut didorong oleh sejumlah faktor, salah satunya keunggulan struktural berupa biaya pendanaan obligasi yang lebih murah dibandingkan pinjaman bank konvensional.

Baca Juga: Amartha Sebut Sudah Sediakan Asuransi Kredit Dalam Beberapa Tahun Terakhir


“Rata-rata suku bunga pinjaman bank berada di level 8,36%, sementara obligasi dengan peringkat AAA hingga A menawarkan biaya dana yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 5,4% hingga 6,9%. Selisih biaya ini mendorong perusahaan multifinance untuk semakin mengandalkan pasar modal guna mengoptimalkan profitabilitas,” ujar Ahmad kepada Kontan, Kamis (22/1/2026).

Selain faktor biaya dana, Ahmad juga melihat adanya pergeseran strategi pendanaan perusahaan ke arah tenor yang lebih panjang.

Obligasi dengan tenor lima tahun kini mencakup sekitar 30,63% dari total penerbitan. Strategi ini bertujuan untuk mengunci biaya dana yang lebih rendah dalam jangka panjang sekaligus mendukung pertumbuhan aset secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Ahmad memperkirakan pasar obligasi akan tetap menjadi pilar utama pendanaan sektor multifinance pada 2026.

Baca Juga: Lender Institusi Dominasi Pendanaan Amartha, Porsinya Tembus 90%

Prospek tersebut turut ditopang oleh likuiditas investor institusi, seperti manajer investasi dan dana pensiun, yang terus mencari imbal hasil di atas Surat Berharga Negara (SBN).

“Dukungan likuiditas dari investor institusi masih kuat, sehingga pasar obligasi tetap menarik bagi perusahaan multifinance,” imbuhnya.

Sementara itu, Pefindo mencatat total nilai penerbitan surat utang sektor multifinance hingga November 2025 mencapai Rp 37,98 triliun.

Nilai tersebut melonjak 138% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 15,90 triliun.

Baca Juga: Fintech Lending 2026: Proyeksi Tumbuh Dobel Digit, Peluang Besar?

Dengan capaian tersebut, sektor multifinance menjadi salah satu kontributor utama dalam pasar surat utang korporasi hingga November 2025.

Ahmad menambahkan, lonjakan penerbitan obligasi tersebut didorong oleh kebutuhan perusahaan multifinance untuk mendukung ekspansi kredit konsumsi.

Selanjutnya: BPKH Siapkan Rp 20 Triliun: Dana Haji Aman Meski Rupiah Loyo?

Menarik Dibaca: Kode CVV Punya Banyak Nama? Jangan Bingung, Fungsinya Tetap Sama Lo!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News