KONTAN.CO.ID - SENTUL BOGOR. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menekan industri makanan dan minuman (mamin) dalam negeri. Selain meningkatkan biaya bahan baku impor, pelemahan rupiah turut berdampak pada ongkos logistik yang masih tinggi. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, biaya pengiriman sejumlah produk makanan dan minuman ke pasar ekspor kini naik signifikan. Adhi mencontohkan, biaya pengiriman ke Australia yang sebelumnya hanya sekitar US$ 1.000 per kontainer kini meningkat menjadi sekitar US$ 3.000 per kontainer.
"Sampai sekarang ke beberapa negara masih sangat mahal sekali. Kami diskusi dengan beberapa
buyer dari Australia, sekarang ke Australia saja yang biasanya cuma $1.000, sekarang $3.000 per kontainer, seperti itu. Ke China biasanya cuma US$ 200–300, sekarang bisa US$ 700–US$ 800, seperti itu," ujar Adhi, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: Lautan Luas (LTLS) Perkuat Bisnis Food Ingredients Melalui Pengembangan FiberCreme Menurut dia, biaya pengiriman ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah bahkan dapat lebih tinggi, bergantung pada jarak dan rute pengiriman. Di sisi lain, industri makanan dan minuman nasional masih menghadapi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah berpotensi semakin meningkatkan biaya produksi. Untuk menekan beban tersebut, pelaku industri mulai mencari alternatif bahan baku dari dalam negeri sekaligus mencari pilihan rute dan moda transportasi yang lebih efisien. "Industri kita masih cukup bagus sebenarnya, tapi karena banyak hambatan-hambatan, mungkin ini menjadi tantangan kita," kata Adhi. Menurut dia, pemenuhan kebutuhan bahan baku dari dalam negeri menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi tekanan biaya akibat fluktuasi nilai tukar dan biaya logistik. "Sebetulnya paling bagus kalau dalam negeri bisa memenuhi gitu, sehingga kita akan lebih mudah untuk mengelolanya. Tapi ini kan perlu strategi jangka panjang gitu menurut saya," kata dia.
Baca Juga: Mendekati 100%, WSKT Hampir Selesaikan Proyek Pembangunan Bendungan Jragung di Jateng Sebagai catatan, rupiah sempat mencatat level terlemah sepanjang sejarah atau
all time low pada akhir Oktober 2026 di level Rp 18.183 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik dan isu arus keluar modal asing.
Tekanan biaya tersebut juga berpotensi mendorong produsen makanan dan minuman untuk menyesuaikan harga jual produknya pada awal 2027. Adhi mengatakan, kenaikan harga produk makanan dan minuman diperkirakan sekitar 5% hingga 6%. Namun, penyesuaian harga tidak selalu dilakukan melalui kenaikan harga jual. Pelaku industri juga dapat memilih mengecilkan ukuran produk sebagai alternatif untuk menekan dampak kenaikan biaya produksi, terutama karena konsumen makanan dan minuman cukup sensitif terhadap perubahan harga. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News