KONTAN.CO.ID - Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Selasa (21/7) menyampaikan bahwa biaya perang dengan Iran sudah menyentuh angka US$ 37,5 miliar atau setara Rp671,92 triliun. Angka tersebut disampaikan Hegseth saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat AS. Menurut Hegseth, nilai US$ 37,5 miliar mencakup biaya operasi militer yang telah berlangsung sekaligus proyeksi pengeluaran hingga 30 September 2026.
Sebelumnya, seorang sumber mengatakan kepada
Reuters bahwa enam hari pertama perang saja diperkirakan telah menelan biaya sedikitnya US$ 11,3 miliar atau sekitar Rp202,47 triliun.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif 50% untuk Produk Kanada, Picu Babak Baru Perang Dagang Trump Minta Tambahan Dana
Presiden Donald Trump sebelumnya mengajukan permintaan kepada Kongres untuk menyetujui tambahan anggaran hampir US$ 90 miliar, atau sekitar Rp1.612,62 triliun. Sebagian besar dana itu akan digunakan untuk membiayai operasi militer di Iran. Sejak AS bersama Israel mulai melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, anggota Kongres dari Partai Republik maupun Demokrat sama-sama mengeluhkan minimnya informasi yang diberikan Gedung Putih mengenai perkembangan perang dan strategi berikutnya. Senator Patty Murray dari Partai Demokrat menilai pernyataan Presiden Trump justru meningkatkan risiko eskalasi konflik. "Presiden mengancam eskalasi dan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang. Ia juga memberi kesan konflik ini dapat berubah menjadi perang tanpa akhir," kata Murray, dikutip
Reuters.
Baca Juga: AS Mulai Serangan Tarif Baru, Kenakan Bea Masuk 25% untuk Mayoritas Impor dari Brasil Pentagon Peringatkan Dampak ke Anggaran Militer
Hegseth memperingatkan bahwa tanpa tambahan anggaran, Pentagon terpaksa memangkas sejumlah program latihan militer. Ia mengatakan perang yang berkepanjangan telah memberi tekanan besar terhadap anggaran pertahanan AS yang mendekati US$ 1 triliun. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, juga mengakui konflik tersebut berpotensi mengganggu anggaran pemeliharaan alutsista serta investasi kemampuan militer pada masa depan. Dalam sidang yang sama, Hegseth kembali meminta Kongres menyetujui usulan anggaran pertahanan sebesar US$ 1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. "Menurut saya, tidak mendanai Departemen Pertahanan sebesar US$ 1,5 triliun merupakan ancaman terbesar yang dihadapi negara kita," ujarnya.
Baca Juga: Perang AS-Iran Berlanjut, Harga Minyak Melonjak Tembus US$ 90 per Barel Gencatan Senjata Gagal
Gencatan senjata antara AS dan Iran yang sempat tercapai pada awal Juli kembali runtuh. Sejak saat itu, kedua negara terus saling melancarkan serangan setiap hari.
Pentagon mencatat jumlah tentara AS yang tewas telah mencapai 18 orang, sementara sekitar 430 personel mengalami luka-luka. Sebanyak 100 prajurit dilaporkan terluka sejak 7 Juli, tetapi Pentagon menyebut sekitar 96% dari mereka sudah kembali bertugas. Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Trump juga mengancam akan memperluas sasaran serangan ke Iran, termasuk fasilitas energi, jembatan, Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran, hingga kompleks bawah tanah Pickaxe Mountain yang diduga berkaitan dengan program nuklir.
Baca Juga: Kerek Cadev, Pakistan Minta Fasilitas Stabilisasi Nilai Tukar US$ 10 Miliar ke AS