Biaya PLTD perbatasan mahal karena memakai BBM



JAKARTA. Pengamat kelistrikan meragukan efektifitas pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang digunakan untuk 47 daerah perbatasan yang rencananya akan diresmikan pada 17 Agustus 2015 ini. Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, biaya pengoperasian yang dilakukan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) cenderung mahal karena menggunakan bahan bakar minyak (BBM). "Saya menduga tidak menyala selama 24 jam, biasanya 6 jam sampai 8 jam dan sudah cukup baik, yang penting setiap hari nyala," katanya, Minggu (9/8).

Namun demikian,ia tetap mengapresiasi langkah pemerintah untuk tetap menerangi listrik di perbatasan. Yang perlu diperhatikan, akses listrik diperbatasan harus tetap terjamin.

"Itu tugas yang lebih berat, kalau pun tidak meyala 24 jam. Tetapi tiap hari bisa nyala, jangan sehari nyala, tiga hari padam," tandasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News