KONTAN.CO.ID - CANNES. Festival Film Cannes tahun ini tidak hanya menjadi panggung karya sinema dunia, tetapi juga menandai perubahan besar dalam industri film penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin meluas dari proses produksi hingga pascaproduksi. Salah satu contoh paling mencolok datang dari sutradara Prancis Xavier Gens, yang mengungkapkan bahwa jika film Netflix 2024 miliknya Under Paris dibuat dengan teknologi AI yang lebih maju saat ini, biaya efek visual bisa turun hingga setengahnya dan waktu produksi dapat dipangkas beberapa bulan. “Seharusnya saya bisa menyelesaikannya dalam tiga bulan, bukan satu tahun,” ujar Gens kepada Reuters di sela Festival Film Cannes. Ia juga memperkirakan biaya efek visual bisa turun dari 4 juta euro menjadi sekitar 2 juta euro berkat AI.
Baca Juga: AS Akan Ajukan Dakwaan terhadap Mantan Presiden Kuba Raul Castro Film Under Paris sendiri merupakan salah satu judul yang banyak mengandalkan efek visual, termasuk manipulasi gambar hiu raksasa di Sungai Seine. Proses semacam ini biasanya memakan waktu lama dan biaya besar, terutama di tahap pascaproduksi. Menurut analis Morgan Stanley, penggunaan AI generatif berpotensi memangkas biaya produksi film dan televisi hingga 30%, terutama pada pekerjaan yang bersifat teknis dan repetitif seperti editing dan efek visual. Meski dikenal sebagai simbol tradisi perfilman dunia, Festival Cannes kini mulai membuka ruang bagi teknologi baru. Tahun ini, diskusi soal AI menjadi salah satu tema utama, bukan lagi sekadar pertanyaan boleh atau tidak, melainkan bagaimana menggunakannya. Namun, penyelenggara tetap menetapkan batasan. Film yang sepenuhnya berbasis AI generatif tidak diperbolehkan masuk dalam kompetisi utama untuk memperebutkan Palme d’Or, sejalan dengan aturan industri yang menegaskan bahwa akting dan penulisan harus tetap dilakukan manusia. Direktur festival Thierry Frémaux menegaskan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan kreativitas manusia. “Untuk mengendarai sepeda listrik, Anda harus bisa mengendarai sepeda biasa,” katanya. Di sisi lain, perusahaan teknologi besar juga mulai masuk ke ekosistem festival. Meta Platforms resmi menjadi mitra festival tahun ini dan memperkenalkan penggunaan AI dalam sejumlah proyek film dokumenter.
Baca Juga: Teknologi Perang Ukraina Catat Lompatan Besar, AS dan Eropa Kini Belajar ke Kyiv Sutradara seperti Guillermo del Toro menilai AI perlu dibedakan antara sebagai alat produksi dan sebagai mesin pembuat karya sepenuhnya. Menurutnya, banyak perdebatan terjadi karena semua bentuk AI sering disamakan, padahal fungsinya berbeda-beda.
Sementara itu, CEO Respeecher, Alex Serdiuk, menilai penggunaan AI untuk meningkatkan performa manusia misalnya dalam rekayasa suara seharusnya tidak lagi dianggap kontroversial setelah beberapa karya berbasis teknologi tersebut bahkan mendapat pengakuan penghargaan. Di area Cannes Film Market, berbagai startup hingga raksasa teknologi seperti Alphabet Inc., NVIDIA, dan OpenAI turut mempresentasikan teknologi terbaru mereka dalam pemanfaatan AI untuk industri kreatif. Meski demikian, sejumlah pelaku industri menilai AI tidak memiliki “rumus sukses” dalam menentukan kualitas film. Setiap karya tetap bergantung pada kreativitas manusia, bukan sekadar analisis data. Namun satu hal yang mulai disepakati di Cannes tahun ini: menolak AI sepenuhnya justru bisa menjadi kerugian di masa depan industri film global yang sedang berubah cepat.