KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya utang pemerintah berpotensi meningkat seiring tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah yang memengaruhi pasar obligasi domestik. Global Market Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan nilai tukar rupiah yang perlahan menanjak ke atas kisaran Rp 17.000 per dolar AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi risiko investor terhadap surat utang Indonesia. Menurutnya, setiap kali pemerintah menerbitkan utang melalui lelang, baik obligasi konvensional maupun sukuk, investor cenderung meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi. Hal serupa juga terlihat di pasar sekunder, di mana pergerakan yield masih fluktuatif meskipun sempat mengalami penurunan setelah sebelumnya meningkat. “Kalau pemerintah menerbitkan utang baru saat ini, ongkosnya pasti lebih mahal,” ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (12/4/2026). Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, serta harga minyak dunia yang berada di atas asumsi APBN. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dinilai lebih rentan terhadap tekanan eksternal tersebut, sehingga mendorong investor bersikap risk averse. Baca Juga: Risiko Utang Meningkat &Peringkat Kredit Turun Jika Pemerintah Kerek Defisit Lebih 3% Meski demikian, pelemahan rupiah juga membuat aset domestik relatif lebih murah bagi investor asing. Namun, faktor risiko global tetap membuat investor menuntut premi yang lebih tinggi saat masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Biaya Utang Pemerintah Berpotensi Naik di Tengah Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Biaya utang pemerintah berpotensi meningkat seiring tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah yang memengaruhi pasar obligasi domestik. Global Market Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan nilai tukar rupiah yang perlahan menanjak ke atas kisaran Rp 17.000 per dolar AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi risiko investor terhadap surat utang Indonesia. Menurutnya, setiap kali pemerintah menerbitkan utang melalui lelang, baik obligasi konvensional maupun sukuk, investor cenderung meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi. Hal serupa juga terlihat di pasar sekunder, di mana pergerakan yield masih fluktuatif meskipun sempat mengalami penurunan setelah sebelumnya meningkat. “Kalau pemerintah menerbitkan utang baru saat ini, ongkosnya pasti lebih mahal,” ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (12/4/2026). Ia menjelaskan, kondisi tersebut tidak lepas dari meningkatnya tensi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, serta harga minyak dunia yang berada di atas asumsi APBN. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dinilai lebih rentan terhadap tekanan eksternal tersebut, sehingga mendorong investor bersikap risk averse. Baca Juga: Risiko Utang Meningkat &Peringkat Kredit Turun Jika Pemerintah Kerek Defisit Lebih 3% Meski demikian, pelemahan rupiah juga membuat aset domestik relatif lebih murah bagi investor asing. Namun, faktor risiko global tetap membuat investor menuntut premi yang lebih tinggi saat masuk ke pasar keuangan Indonesia.
TAG: