Bidik Dana Kelolaan Rp 67 Triliun Hingga Akhir Tahun, Simak Strategi Sinarmas AM



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Di tengah tekanan yang masih membayangi industri reksadana, PT Sinarmas Asset Management (Sinarmas AM) tetap memasang target pertumbuhan agresif. 

Perusahaan membidik dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) mencapai sekitar Rp 67 triliun hingga akhir 2026 dengan mengandalkan penguatan produk pendapatan tetap, perluasan distribusi, serta inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Optimisme tersebut muncul saat industri reksadana nasional justru mengalami moderasi. 


Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Kinerja High Single Digit di 2026, Simak Strategi MAPI

Data terbaru menunjukkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri turun 4,79% secara bulanan (mtm) menjadi Rp 652,9 triliun, diikuti aksi pencairan unit penyertaan (net redemption) sebesar Rp 23,75 triliun.

Chief Investment Officer Sinarmas AM Genta Wira Anjalu mengatakan, target pertumbuhan AUM didukung oleh pipeline bisnis yang masih kuat, terutama pada produk reksadana pendapatan tetap yang hingga kini tetap menjadi pilihan utama investor.

"Optimisme tersebut didukung oleh beberapa faktor. Pertama, pipeline bisnis kami masih cukup kuat, terutama pada produk pendapatan tetap yang saat ini masih menjadi pilihan utama investor," ujar Genta kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Selain memperkuat produk berbasis surat utang, Sinarmas AM juga memperluas jaringan distribusi dan menyiapkan berbagai produk baru untuk menjawab kebutuhan investor di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.

Baca Juga: Allianz Life Ungkap Tantangan yang Bisa Pengaruhi Perolehan Laba hingga Akhir Tahun

Strategi tersebut turut ditopang oleh kemampuan pengelolaan portofolio secara aktif (active management). 

Hingga 7 Juli 2026, sejumlah produk reksadana pendapatan tetap perseroan seperti Danamas Pasti, Danamas Stabil, dan Simas Pendapatan Optima mencatatkan imbal hasil satu tahun sekitar 6,4%–6,5%, jauh melampaui Infovesta Fixed Income Fund Index yang berada di kisaran 2,3%.

Di segmen reksadana saham, Sinarmas AM juga mulai memanfaatkan teknologi AI melalui produk Danamas Saham. Per 7 Juli 2026, produk tersebut membukukan return tahunan sebesar 6,53%, berbanding terbalik dengan indeks LQ45 yang masih terkoreksi hingga 22,49%.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Subsidi Impor Kedelai, Akindo: Pasokan Aman Hingga Akhir Tahun 2026

Untuk menghadapi dinamika pasar saat ini, Sinarmas AM menilai strategi investasi secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA) tetap menjadi pendekatan yang efektif. 

Investor juga disarankan membangun portofolio yang seimbang dengan menempatkan reksadana pasar uang atau pendapatan tetap sebagai penyangga stabilitas, sekaligus mempertahankan eksposur pada reksadana saham untuk menangkap potensi pertumbuhan jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News