KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Syngenta Indonesia meluncurkan fungisida baru untuk tanaman padi, Miravis duo, sebagai upaya mendukung peningkatan produktivitas dan penguatan ketahanan produksi beras nasional. Produk berbasis teknologi Adepidyn™ itu diperkenalkan di Cilacap, Jawa Tengah, pada 4 Juni 2026, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang meluncurkan teknologi tersebut khusus untuk budidaya padi. Peluncuran ini dilakukan di tengah tantangan sektor pertanian yang menghadapi cuaca semakin sulit diprediksi dan meningkatnya risiko serangan penyakit tanaman.
Syngenta mengklaim teknologi Adepidyn™ mampu memberikan perlindungan penyakit yang lebih efektif, menjaga kesehatan tanaman, serta membantu mempertahankan potensi hasil panen.
Baca Juga: Syngenta Indonesia Dorong Produktivitas Hortikultura dengan Buku Pintar Budidaya Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan peluncuran Miravis duo merupakan bagian dari upaya perusahaan menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. "Peluncuran Miravis duo untuk padi adalah wujud nyata dari visi Petani Maju, yaitu membantu petani meningkatkan hasil panen untuk keuntungan maksimal, mempercepat inovasi teknologi fungisida sesuai kebutuhan petani, serta memperkuat kolaborasi agar teknologi pertanian digunakan sesuai rekomendasi demi hasil yang optimal dan berkelanjutan," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (5/6/2026). Menurut Syngenta, fungisida tersebut memiliki daya serap cepat dan mampu menyebar ke seluruh bagian tanaman dalam waktu enam jam setelah aplikasi. Perlindungan yang diberikan diklaim dapat bertahan hingga 14 hari, termasuk saat terjadi hujan atau kondisi cuaca yang tidak menentu. Perusahaan juga menonjolkan tiga manfaat utama produk tersebut, yakni menghasilkan gabah yang lebih sehat dan berkilau, menjaga daun bendera tetap hijau dan bersih untuk mendukung proses fotosintesis, serta membantu meningkatkan produktivitas panen melalui perlindungan penyakit yang lebih optimal. Pemilihan Cilacap sebagai lokasi peluncuran tidak lepas dari peran daerah tersebut sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Kabupaten ini diperkirakan menghasilkan 855.042 ton gabah kering giling (GKG) dan mencatat surplus beras lebih dari 321 ribu ton pada 2025.
Baca Juga: Perang Pasokan Eksportir Utama: Harga Beras Global Diramal Tetap Rendah Pemerintah daerah menilai inovasi perlindungan tanaman menjadi salah satu faktor penting untuk membantu petani mengelola risiko penyakit, terutama di tengah perubahan cuaca yang semakin tidak menentu. Peluncuran Miravis duo dihadiri lebih dari 600 petani yang juga berkesempatan melihat langsung hasil penerapan produk melalui lahan percontohan. Sejumlah petani yang telah menguji produk tersebut di lahan mereka melaporkan kondisi tanaman yang lebih sehat dan hasil panen yang lebih baik dibanding musim sebelumnya. Setelah diperkenalkan di Cilacap, Syngenta berencana memperluas pemasaran Miravis duo untuk padi ke berbagai wilayah sentra produksi padi lainnya di Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News