KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha di Jawa Barat mulai menerapkan Digital Product Passport (DPP) berbasis RFID dan blockchain untuk memenuhi tuntutan pasar Eropa yang semakin menekankan transparansi, ketertelusuran, dan keberlanjutan produk. Salah satu implementasinya dilakukan oleh produsen rempah asal Bogor, Java Spices, yang melacak seluruh proses produksi, mulai dari budidaya di lahan organik hingga pengemasan. Data tersebut direkam melalui platform INA Trading dengan menyematkan stiker Peruri RFID Blockchain pada setiap kemasan produk.
Baca Juga: Lalamove Resmi Beroperasi di Jerman, Bidik Pasar Eropa dan Timur Tengah CEO PUNDI & INA Trading Amiranto Adi Wibowo mengatakan penerapan Digital Product Passport akan menjadi kebutuhan penting bagi produk yang masuk ke pasar Eropa. "Regulasi di Eropa mengarah pada kewajiban Digital Product Passport untuk setiap produk. Karena itu pelaku usaha Indonesia perlu menyiapkan sistem ketertelusuran dan jaminan keaslian produk sejak sekarang," ujarnya dalam keterangannya, seperti dikutip, Selasa (30/6/2026). Melalui teknologi tersebut, pembeli dapat memindai produk untuk mengakses informasi asal bahan baku, proses produksi, jejak karbon, sertifikasi, hingga status keaslian produk yang telah diverifikasi secara digital. CEO Peruri Smart Card Muchrizal menjelaskan, penghitungan jejak karbon dilakukan menggunakan perangkat Internet of Things (IoT) yang dipasang di lahan, armada logistik, dan fasilitas produksi.
Baca Juga: Uber Bidik Pasar Eropa, Siap Ekspansi Bisnis Pengantaran Makanan di Tujuh Negara Seluruh data terhubung dengan platform INA Trading dan sistem keamanan digital Peruri. Dalam kegiatan kurasi tersebut, PUNDI/INA Trading juga menandatangani kerja sama dengan Polaris serta Java Spices/Archipelago untuk penggunaan PERURI RFID Blockchain pada produk rempah dan kerajinan bambu yang akan diekspor ke Belanda. Produk Jawa Barat juga diproyeksikan masuk ke pasar Serbia dan sejumlah negara Eropa Timur lainnya. Pengiriman perdana ke Belanda ditargetkan berlangsung menjelang program penjualan akhir tahun 2026 di Eropa.
Selain aspek teknologi, pelaku usaha juga diminta menyesuaikan kemasan dan strategi pemasaran dengan karakter konsumen di masing-masing negara tujuan.
Baca Juga: Gazprom Kehilangan Pasar Eropa, Bagaimana Nasib Sahamnya? Dengan Digital Product Passport, produk ekspor Jawa Barat diharapkan lebih mudah memenuhi standar pasar Eropa sekaligus meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap keaslian dan keberlanjutan produk. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News