KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Pasar biofarmasi Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh lebih agresif dalam beberapa tahun ke depan. Peningkatan belanja kesehatan, pertumbuhan populasi lanjut usia, serta kemajuan teknologi bioteknologi menjadi sejumlah katalis utama yang mendorong ekspansi industri tersebut. Berdasarkan analisis IMARC Group, pasar biofarmasi Asia Tenggara tercatat mencapai US$ 6,7 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat menjadi US$12,8 miliar pada 2034. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan belanja kesehatan, meningkatnya prevalensi penyakit kronis, dukungan kebijakan pemerintah, serta kemajuan teknologi di bidang bioteknologi dan manufaktur biofarmasi.
Baca Juga: APPBI Targetkan Transaksi Rp 20 Miliar di Pagelaran Batik Puspa Nuswantara 2026 Di tengah prospek pertumbuhan industri biofarmasi Asia Tenggara, National Biopharmaceutical Facility (NBF), fasilitas pengembangan dan manufaktur biofarmasi di bawah King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), memanfaatkan momentum CPHI South East Asia 2026, ajang industri farmasi regional, untuk memperkenalkan kapabilitas fasilitasnya. NBF didukung investasi lebih dari US$80 juta untuk pembangunan fasilitas, pengadaan peralatan, serta pengembangan infrastruktur manufaktur. Fasilitas yang berada di Bangkok, Thailand, ini dirancang untuk mendukung pengembangan produk biofarmasi berbasis standar Good Manufacturing Practice (GMP), mulai dari tahap riset hingga produksi skala pilot. Wakil Presiden King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Dr. Annop Nopharatana menjelaskan bahwa NBF dibangun untuk menjembatani kebutuhan antara riset akademik dan aplikasi industri biofarmasi. “National Biopharmaceutical Facility merupakan infrastruktur strategis yang menghubungkan riset ilmiah dengan aplikasi industri, memperkuat kemampuan manufaktur biofarmasi, serta mendukung pengembangan industri secara berkelanjutan,” ujar Annop dalam media site visit program, Bangkok Selasa (7/7/2026). Menurut Annop, kebutuhan terhadap fasilitas pengembangan dan manufaktur biofarmasi semakin meningkat seiring pertumbuhan industri biologics. Kehadiran fasilitas seperti NBF diharapkan dapat membantu perusahaan bioteknologi maupun institusi riset mempercepat proses pengembangan produk hingga tahap produksi.
Baca Juga: SCG Soroti Pentingnya Sistem Utilitas Andal, Dorong Efisiensi Industri Manufaktur Melalui kapabilitasnya sebagai Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO), NBF juga akan mendukung pengembangan produk biofarmasi mulai dari pengembangan proses, peningkatan skala produksi, transfer teknologi, hingga manufaktur berbasis standar GMP. NBF memiliki tiga pusat pengembangan utama yang mendukung rantai nilai biofarmasi, yakni Bioprocess Research and Innovation Center (BRIC), Biopharmaceutical Characterization Laboratory (BPCL), serta GMP Production Facility. BRIC berfokus pada riset dan optimalisasi proses produksi biofarmasi, termasuk pengembangan proses dan transfer teknologi. Sementara BPCL menyediakan layanan karakterisasi produk biofarmasi untuk mendukung evaluasi kualitas dan kebutuhan regulasi.
Adapun GMP Production Facility mendukung produksi skala pilot untuk produk biofarmasi berbasis teknologi mikrobial, sel mamalia, maupun sistem
single-use. Fasilitas ini mencakup proses produksi, pengisian aseptik, validasi proses, serta persiapan menuju manufaktur komersial.
Baca Juga: Bidik Penjualan Tumbuh 20%, Harmoni Park Group Tebar Promo Lewat Harmoni Fest Selain mendukung pengembangan industri, NBF juga memiliki peran dalam memperkuat ketahanan rantai pasok produk kesehatan, termasuk vaksin. Fasilitas tersebut dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas manufaktur biofarmasi di kawasan Asia Tenggara. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News