KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mitra Adiperkasa Tbk (
MAPI) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada kisaran
high single digit hingga akhir tahun 2026. Wakil Presiden Direktur MAPI, V.P. Sharma, mengatakan perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target tersebut. Langkah yang ditempuh antara lain melalui ekspansi yang terukur, penguatan keunggulan operasional serta efisiensi biaya, optimalisasi digitalisasi, pengembangan sumber daya manusia dan budaya perusahaan, serta mengoptimalkan pengalaman pelanggan.
"Kita masih menargetkan panduan kinerja di level
high single digit baik dari segi laba bersih maupun penjualan. Meskipun kinerja kuartal pertama kami sangat kuat, kami tetap berhati-hati. Jadi panduan kinerja kami berada di sekitar pertumbuhan
high single digit sampai akhir tahun ini," kata Sharma saat ditemui di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: Penjualan dan Laba Mitra Adiperkasa (MAPI) Naik di Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya Meski begitu, Sharma menyampaikan kondisi makroekonomi baik dari dalam negeri maupun luar negeri bakal turut memengaruhi prospek bisnis perusahaan. Misalnya, pelemahan rupiah belakangan ini dinilai cukup berdampak pada performa perusahaan. Untuk mengantisipasinya, perusahaan melakukan strategi hedging. "Jadi sudah jelas pelemahan rupiah tentu memengaruhi penjualan ritel, kami tidak memiliki banyak pilihan selain meneruskan dampak perubahan nilai tukar tersebut kepada pelanggan khususnya yang berkaitan dengan risiko kurs," tambahnya. Di sisi lain, perusahaan juga menargetkan pembukaan toko baru sebanyak 550-600 gerai hingga akhir tahun 2026. Untuk kuartal pertama tahun 2026, perusahaan telah merealisasikan sebanyak 200 toko baru.
Ini dilakukan untuk memperbesar pangsa pasar perusahaan. Adapun, belanja modal atau
capital expenditure yang disiapkan ialah sebesar Rp 2 triliun. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat
guidance pertumbuhan
high single digit untuk 2026 masih cukup realistis, tetapi profil pertumbuhannya sudah berubah dibanding fase pasca pandemi yang sempat lebih agresif.
Baca Juga: Mitra Adiperkasa (MAPI) Raih Kenaikan Pendapatan dan Laba pada 2025 "Sekarang fokusnya lebih ke kualitas pertumbuhan seperti margin, produktivitas toko, inventory disiplin dibanding mengejar ekspansi volume semata," kata Nafan kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Sementara itu, Azis melihat prospek MAP Group masih positif didukung pemulihan konsumsi domestik, ekspansi gerai, dan portofolio merek global yang kuat.
Faktor Pendorong dan Pemberat Kinerja Azis bilang sentimen pendorong prospek MAP Group berasal dari peningkatan daya beli, musim liburan, dan pembukaan toko baru. "Sementara risiko utama berasal dari pelemahan konsumsi, persaingan yang ketat, pelemahan rupiah, dan kenaikan biaya operasional," jelas Azis. Sementara Nafan bilang portofolio merek premium MAPI menyasar konsumen kelas affluent yang daya belinya relatif kebal terhadap fluktuasi inflasi domestik jika dibandingkan dengan kelas menengah hingga bawah. Manajemen inventori yang jauh lebih pulih dibarengi optimalisasi strategi omni-channel berhasil menekan biaya operasional secara signifikan. "Hal inilah yang membuat pertumbuhan laba bersih mampu melesat lebih cepat daripada laju pertumbuhan top-line," ucap Nafan. Kontribusi dari luar Indonesia termasuk gerai Foot Locker di Filipina dan ekspansi portofolio aktif di negara Asia Tenggara lainnya memperluas diversifikasi geografis MAPI sehingga tidak 100% bergantung pada daya beli domestik.
Baca Juga: BREN, MAPI, MAPA, SMDR, hingga FILM RUPS Hari Ini (24/6), Simak Prospeknya Adapun Nafan berpendapat faktor pemberat MAPI berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah. Demi mengimbangi tekanan kurs dan menjaga volume penjualan agar barang tidak menumpuk di gudang, MAPI terpaksa meningkatkan aktivitas promosi. Strategi ini efektif menjaga omset tetap tinggi, tetapi berisiko mengorbankan margin profitabilitas di level kotor. Berdasarkan rekomendasi saham, Nafan menyarankan hold saham MAPI di target harga Rp 1.535 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News