KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham bank dengan kapitalisasi pasar besar alias big banks masih melanjutkan pelemahan pada Jumat (5/6/2026). Ini artinya, saham big banks kembali menyentuh level terendah baru. Hingga hari ini pukul 10.34 WIB, saham bank yang melemah paling dalam adalah saham Bank Central Asia (
BBCA) yang turun sebesar 4,61% di level Rp 5.175 per saham. Penurunan saham BBCA ini diikuti aksi jual bersih asing alias net sell. Per 4 Juni 2026, BBCA saham telah dijual asing sebesar Rp 475,5 miliar dan sepanjang tahun ini sebesar Rp 31,5 triliun.
Baca Juga: Kantongi Restu OJK, BNI Tambah Amunisi Modal Inti Rp 12,6 Triliun Sementara saham bank kedua yang turun tajam adalah saham Bank Negara Indonesia (
BBNI) yang turun sebesar 3,8% di level Rp 3.390 per saham. Per 4 Juni 2026, aksi jual bersih alias net sell asing di saham BBNI mencapai Rp 106,3 miliar. Dan di sepanjang tahun ini aksi jual bersih asing di saham BBNI mencapai Rp 2,7 triliun. Saham bank ketiga yang turun dalam adalah Bank Mandiri (
BMRI). Saham ini turun 2,02% di Rp 3.900 per saham. Adapun aksi net sell asing mencapai Rp 164,1 miliar pada 4 Juni 2026. Sedangkan di sepanjang tahun ini, asing telah menjual bersih saham BMRI sebanyak Rp 11,01 triliun. Saham Bank Rakyat Indonesia (
BBRI) hingga pukul 10.34 WIB tercatat turun 1,42% menjadi Rp 2.770 per saham. Saham BBRI juga cukup banyak dijual asing. Per 4 Juni 2026, nilai net sell BBRI mencapai Rp 451,7 miliar. Akibatnya sepanjang tahun ini aksi jual bersih sepanjang tahun ini Rp 9,6 triliun Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut penurunan saham big banks dipicu dua sentimen utama, kenaikan suku bunga acuan dan pelemahan rupiah.
Baca Juga: Cek Rekening! Dividen Tunai BSI Cair Hari Ini (5/6) Kenaikan BI rate menjadi 5,25% pada Mei 2026 membuat investor asing khawatir kinerja bank akan tertekan, sehingga memicu aksi jual. Namun, dampak ini dinilai hanya jangka pendek karena kinerja BBCA dan BBRI masih kuat. Jika laporan keuangan Mei 2026 tetap positif, tekanan dari BI rate diperkirakan mereda. Sebaliknya, pelemahan rupiah dianggap sebagai faktor utama yang lebih berkelanjutan karena mendorong investor asing melakukan net sell di saham perbankan. "Sektor perbankan itu punya korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu outflow investor asing," kata Nafan, Kamis (4/6/2026). Menurut Nafan, BBCA dan BBRI yang memiliki kapitalisasi terbesar di bursa paling sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga penurunannya bisa lebih dalam saat terjadi tekanan. Meski harganya terus melemah, Nafan tetap merekomendasikan akumulasi saham big banks secara bertahap dengan target harga BBCA di Rp 8.375 dan BBRI di Rp 3.670.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Aziz Setiyo Wibowo, memprediksi saham big banks berpotensi kembali menguat. Secara teknikal, kata dia, BBCA sedang membentuk pola candle doji, yaitu kondisi saat harga bergerak sempit tanpa arah kuat. Jika berhasil rebound, BBCA berpotensi untuk trading jangka pendek dengan target Rp5.875–Rp5.900, dengan support di Rp5.300. Untuk BBRI, Aziz menyebut support berada di Rp 2.780 dengan target jangka pendek sekitar Rp 3.070. Kondisi ini dinilai sebagai peluang akumulasi. Aziz juga menilai valuasi saham big banks saat ini sudah relatif murah, sehingga menarik bagi investor yang ingin mulai masuk.
Baca Juga: BNI Ingin Net Zero Emissions, Dorong Pembiayaan Hijau dan UMKM Ramah Lingkungan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News