Binance Dibobol, Aset Kripto US$ 6,3 Miliar Terdampak dan Bitcoin Anjlok



KONTAN.CO.ID - Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, mengungkapkan adanya insiden keamanan yang berdampak pada aset senilai sekitar US$ 6,3 miliar.

Peretasan tersebut memicu kekhawatiran di pasar aset digital dan mendorong harga sejumlah mata uang kripto utama melemah.

Binance menyatakan telah bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk membekukan aset yang terdampak.


Hingga saat ini, sekitar US$ 3 miliar aset telah berhasil ditemukan dan dibekukan. Namun, perusahaan belum memberikan perkembangan terbaru terkait sisa aset senilai US$ 3,3 miliar.

Baca Juga: Kasus PHK di Singapura Tembus 4.800 Orang, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Salah satu pendiri Binance, Yi He, menyatakan perusahaan akan menanggung seluruh kerugian akibat peretasan tersebut.

Dalam penyelidikan awal, Binance menduga insiden bermula dari peretasan laptop milik salah satu insinyurnya.

Akses tersebut kemudian diduga dimanfaatkan pelaku untuk masuk ke salah satu sistem perusahaan dan melakukan penarikan aset tanpa izin.

Dampak insiden langsung terasa di pasar kripto pada perdagangan awal Asia, Jumat (30/10/2026). Harga Bitcoin merosot lebih dari 3% ke level terendah dalam enam pekan, yakni US$ 76.368. Ethereum juga turun lebih dari 3% ke level terendah dalam dua bulan di US$ 2.178.

Sementara itu, token BNB yang diluncurkan Binance dan dapat digunakan untuk membayar biaya transaksi di platform tersebut terkoreksi sekitar 5% dalam 24 jam terakhir ke US$ 709,70, berdasarkan data CoinGecko.

Tekanan juga terjadi pada saham perusahaan terkait industri kripto. Saham Coinbase Global turun 4,8%, sedangkan saham Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar, merosot hampir 6% dalam perdagangan lanjutan di AS.

Perusahaan analitik blockchain Chainalysis dan sejumlah pakar industri menilai insiden tersebut berpotensi menjadi salah satu peretasan kripto terbesar dalam sejarah.

"Ini adalah peretasan terbesar dalam sejarah," ujar Aravind Srinivasan, kepala bisnis systematic over-the-counter di GSR, salah satu pelaku pasar besar aset kripto.

Di luar potensi kerugian aset, insiden ini juga berisiko memperburuk sentimen terhadap industri kripto.

Baca Juga: Ringgit dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Naik 0,11%

Pasar aset digital sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat suku bunga AS yang tinggi dan melemahnya permintaan dari investor produk dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF).

Peneliti senior HashKey Group yang berbasis di Hong Kong, Tim Sun, menilai peretasan tersebut dapat semakin menekan minat investor terhadap aset berisiko.

Menurut dia, insiden ini berpotensi membuat investor kembali mengevaluasi keamanan aset yang disimpan di bursa kripto terpusat, termasuk risiko terhadap pihak lawan transaksi, solvabilitas, dan likuiditas perusahaan.

Binance Hentikan Sementara Setoran dan Penarikan

Binance menyatakan dana pengguna tetap aman. Namun, sebagai langkah pencegahan, perusahaan menghentikan sementara seluruh aktivitas setoran dan penarikan aset kripto selama tim keamanan melakukan pemeriksaan dan mengamankan infrastruktur dompet digital.

Binance juga bekerja sama dengan aparat penegak hukum serta mitra industri untuk melacak aset yang terdampak.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus US$ 115 per Barel Imbas Serangan Houthi

Berdasarkan laporan tahunan 2025, Binance memiliki sekitar 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia dan mengelola aset dalam kustodian senilai sekitar US$ 162,8 miliar.

Binance juga memiliki Secure Asset Fund for Users (SAFU), yakni dana cadangan yang seluruhnya disimpan dalam Bitcoin dan ditujukan untuk melindungi aset pengguna apabila terjadi insiden keamanan.

Sejumlah penerbit stablecoin dan perusahaan kripto turut membantu membekukan aset yang diduga berkaitan dengan peretasan tersebut.

Tether menyatakan telah membekukan aset hampir US$ 1,57 miliar, sementara Circle membekukan lebih dari US$ 800 juta.

Perusahaan kripto World Liberty Financial, yang memiliki keterkaitan dengan Presiden AS Donald Trump dan keluarganya, juga menyatakan bekerja sama dengan kustodian kripto BitGo untuk membekukan dana yang dicuri dalam insiden tersebut.

Yi He menyebut sekitar US$ 27 juta dalam bentuk stablecoin dan token World Liberty senilai sekitar US$ 2 juta telah dibekukan.

Selain itu, Ripple membekukan dana sekitar US$ 200 juta. Wakil Presiden Senior Ripple untuk stablecoin, Jack McDonald, mengatakan perusahaan terus memantau laporan dugaan eksploitasi terhadap Binance dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membekukan aset terdampak.

Baca Juga: Kekhawatiran Saham AI Picu Perburuan US Treasury, Dolar AS Melemah

Menambah Daftar Kasus Pencurian Kripto

CEO perusahaan intelijen blockchain Arkham Miguel Morel mengatakan, data yang dimiliki perusahaannya menunjukkan adanya indikasi pencurian aset kripto bernilai miliaran dolar dari Binance oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya.

Insiden ini menambah daftar kasus pencurian aset digital. Peneliti TRM Labs mencatat, sepanjang tahun lalu pelaku kejahatan mencuri aset kripto senilai US$ 2,9 miliar melalui hampir 150 serangan.

Pada September lalu, bursa kripto Bitget juga melaporkan pencurian aset kripto sekitar US$ 350 juta dari platformnya.

Sementara itu, Binance.US, bursa kripto terpisah yang beroperasi di AS, menyatakan tidak terdampak insiden keamanan tersebut. Coinbase juga memastikan platformnya tidak terkena dampak dan terus memantau perkembangan situasi.

Dalam insiden terpisah pada Kamis (29/10/2026), operator pasar prediksi Polymarket sempat menghentikan perdagangan akibat masalah keamanan yang melibatkan penyedia layanan pihak ketiga.

Perdagangan kemudian kembali dibuka dan perusahaan menyatakan akan mengganti seluruh kerugian trader yang terdampak.

Baca Juga: Ekspor Vietnam Melonjak 27,4%, Nilainya Diperkirakan Tembus US$ 499 Miliar