Binance Dibobol US$ 6,3 Miliar, Picu Kekhawatiran Investor Kripto



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepercayaan investor terhadap Binance, bursa kripto terbesar di dunia, masih relatif terjaga setelah platform tersebut mengalami peretasan senilai US$ 6,3 miliar. Meski demikian, insiden ini diperkirakan membuat investor institusi dan pemodal besar lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar aset kripto.

Pada Minggu, pelanggan Binance tercatat menarik dana bersih sebesar US$ 3,64 miliar dalam kurun waktu 9,5 jam setelah platform tersebut kembali membuka sebagian layanan penarikan.

Arus penarikan dana menjadi salah satu indikator awal untuk mengukur tingkat kepercayaan pengguna terhadap sebuah bursa kripto. Binance menyebutkan, jumlah dana yang keluar tersebut setara dengan 2,1% dari total aset yang dikelola platform.


Sejumlah analis menilai besaran penarikan tersebut masih relatif terbatas dan belum menunjukkan kepanikan besar di kalangan investor.

"Prioritas utama kami saat ini adalah memastikan lingkungan tetap aman, setelah itu pengguna dapat menarik dana mereka dan Binance dapat melanjutkan operasional," kata Co-CEO Binance Yi He dalam unggahan di platform X, Senin (2/11/2026).

Baca Juga: Kimi Antonelli Jadi Juara Dunia F1 Termuda, Pecahkan Rekor Sebastian Vettel

Di tengah insiden tersebut, harga Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya mulai stabil. Volume perdagangan juga meningkat, meskipun pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran atas peretasan yang berpotensi menjadi salah satu pencurian terbesar dalam sejarah keuangan.

Serangan terhadap Binance terjadi pada Kamis malam. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) bersama sejumlah analis mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas asal Korea Utara.

Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian akibat peretasan tersebut. Perusahaan mengklaim telah mengumpulkan dana sebesar US$ 6 miliar dari kas perusahaan, dana asuransi, serta dana khusus yang disiapkan untuk menghadapi insiden keamanan.

Peneliti senior HashKey Group, Tim Sun, mengatakan insiden tersebut sejauh ini belum memicu kepanikan luas maupun penarikan dana secara besar-besaran dan terkonsentrasi.

"Namun, pukulan terhadap kepercayaan pasar akibat insiden ini kemungkinan jauh melampaui aset yang dicuri. Kekhawatiran mengenai keamanan akan memengaruhi tingkat alokasi dana dari pembuat pasar, institusi, dan berbagai investor," ujar Tim Sun.

Binance mengklaim memiliki lebih dari 335 juta pengguna di seluruh dunia dengan rata-rata volume perdagangan aset digital dan derivatif mencapai US$ 95 miliar per hari.

Untuk meredakan kekhawatiran pelanggan, Binance menyampaikan bahwa volume penarikan dana sempat melonjak pada awal kejadian, tetapi kemudian menurun dan mulai stabil.

Dalam unggahan di X, Binance mencatat terdapat dana masuk sebesar US$ 1 miliar, berbanding dengan sekitar US$ 4,6 miliar dana yang keluar pada Minggu.

Investor Belum Ramai-ramai Tinggalkan Binance

Sejumlah trader yang diwawancarai Reuters menyatakan masih mempertahankan akun mereka di Binance dan tidak berencana menarik seluruh dana dalam waktu dekat.

Wakil Presiden Asia Web3 AI Association, Jay Koh, mengatakan bursa kripto tersentralisasi masih memiliki peran penting dalam menyediakan likuiditas, aktivitas perdagangan, serta akses ke pasar aset digital.

"Saya tidak serta-merta akan menarik seluruh dana dari Binance karena bursa tersentralisasi tetap memainkan peran penting dalam likuiditas, perdagangan, dan akses pasar," kata Jay Koh.

Pengguna Binance lainnya, Ryan Tan, juga mengaku tidak terburu-buru menarik dananya. Sejak runtuhnya bursa kripto FTX empat tahun lalu, ia telah membatasi jumlah aset yang disimpan di platform perdagangan.

Baca Juga: Tiga Maskapai China Terancam Rugi Sepanjang 2026

"Setelah keruntuhan FTX, saya memutuskan untuk menyimpan seluruh aset di dompet kripto pribadi daripada membiarkannya berada di bursa," ujar pria berusia 39 tahun tersebut.

Setelah menyentuh level terendah dalam enam pekan pada Jumat, harga Bitcoin kembali pulih sepanjang akhir pekan dan diperdagangkan di atas US$ 78.000 pada Senin. Harga Ether juga bangkit dari posisi terendah dalam dua bulan.

Namun, kapitalisasi pasar stablecoin, yang kerap menjadi indikator pergerakan dana masuk dan keluar dari pasar kripto, mengalami penurunan sejak Jumat. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya sebagian dana yang berpindah ke uang tunai atau aset tradisional.

Binance menyatakan layanan penarikan Bitcoin melalui jaringan Bitcoin serta Ether dan sejumlah stablecoin berbasis dolar AS melalui jaringan Ethereum telah kembali tersedia.

Meski demikian, situs Binance masih menunjukkan bahwa layanan penarikan untuk sebagian besar aset kripto lainnya belum sepenuhnya pulih.

Investor Institusi Diperkirakan Lebih Berhati-hati

Peretasan Binance menambah daftar panjang kasus pencurian aset kripto dalam beberapa waktu terakhir. Insiden ini juga menjadi kasus terbaru sekaligus terbesar yang dikaitkan dengan kelompok peretas Korea Utara.

Pada Sabtu, FBI menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok yang disponsori negara Korea Utara, yakni TraderTraitor. Kelompok ini dikenal memiliki kemampuan teknis tinggi dan pengalaman dalam melakukan serangan siber. Hasil kejahatannya juga disebut digunakan untuk mendanai program persenjataan Korea Utara.

Sejumlah analis menilai besarnya nilai kerugian dan profil serangan terhadap Binance berpotensi menahan laju pembelian aset kripto oleh investor institusi untuk sementara waktu.

Padahal, masuknya dana dari investor institusi selama ini menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat menopang kenaikan harga aset kripto.

Ari Redbord, Kepala Kebijakan Global di perusahaan analisis blockchain asal Amerika Serikat, TRM Labs, mencatat bahwa produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot mengalami arus keluar dana sebesar US$ 643 juta pada Jumat. Angka tersebut menjadi arus keluar harian terbesar sepanjang Oktober.

Selain itu, lebih dari US$ 1,3 miliar posisi perdagangan dengan leverage mengalami likuidasi.

"Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa investor sedang mengurangi risiko," kata Redbord.

Baca Juga: Bos Minyak Ini Ingatkan Cadangan Penyangga Pasokan Energi Dunia Telah Terkuras

Ia menambahkan, peretasan terhadap bursa kripto memiliki dampak yang sangat besar karena dapat berlangsung dengan kecepatan tinggi melalui jaringan internet.

"Peretasan pada bursa kripto ibarat perampokan bank dengan kecepatan internet. Hal ini menciptakan profil risiko yang tidak stabil bagi siapa pun yang bertanggung jawab atas modal milik orang lain," ujarnya.

Di sisi lain, sekitar separuh dana hasil pencurian berbentuk stablecoin dan telah dibekukan oleh sejumlah penerbit, termasuk Circle.

Pada Senin, Circle menyatakan telah membekukan lebih dari US$ 1,1 miliar dalam bentuk USDC yang terkait dengan insiden tersebut.

Pendiri sekaligus CEO perusahaan pemulihan aset kripto iSanctuary, Jonathan Benton, mengatakan teknologi untuk melacak aliran dana hasil pencurian sebenarnya telah tersedia. Namun, tantangan utamanya adalah mengubah informasi pelacakan tersebut menjadi tindakan cepat dan terkoordinasi sebelum aset yang dicuri berpindah atau menghilang.

"Masa depan kripto tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak uang yang masuk ke pasar, melainkan oleh seberapa aman uang tersebut setelah berada di dalamnya," kata Benton, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Unit Pemberantasan Korupsi Internasional di Badan Kejahatan Nasional Inggris.