KONTAN.CO.ID - Binance mulai memulihkan layanan perdagangan dan penarikan dana setelah mengalami peretasan aset kripto senilai US$ 6,3 miliar yang diduga terkait dengan kelompok peretas Korea Utara. Meski layanan kembali beroperasi, bursa kripto terbesar di dunia tersebut menghadapi penarikan dana nasabah sebesar US$ 3,64 miliar. Mengutip
Reuters, Senin (2/11/2026), jumlah penarikan tersebut setara dengan 2,1% dari total aset Binance.
Baca Juga: PDB per Kapita Vietnam Diprediksi Lampaui Indonesia, Ini Proyeksi IMF Perusahaan menyatakan arus penarikan dana mulai stabil setelah sempat melonjak pada awal insiden, sementara volume setoran nasabah masih terjaga signifikan. Binance juga mengklaim telah menutupi sekitar 95% aset yang dicuri dalam serangan tersebut. Harga Bitcoin yang sempat menyentuh level terendah dalam enam pekan pada Jumat lalu mulai pulih sepanjang akhir pekan dan diperdagangkan di atas US$ 78.000 pada Senin. Sementara itu, Ethereum atau Ether juga bangkit tipis ke US$ 2.287 setelah menyentuh level terendah dalam dua bulan. Binance merupakan platform yang memungkinkan pengguna membeli, menjual, dan memperdagangkan aset digital. Perusahaan memiliki sekitar 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Binance menyebutkan total aset yang dikelolanya mencapai US$ 171 miliar per 28 Oktober 2026. Kepala Kebijakan Global TRM Labs, Ari Redbord, menilai penarikan dana tersebut masih mencerminkan reaksi kehati-hatian nasabah, bukan pelarian modal secara besar-besaran.
Baca Juga: China Pacu Pengembangan Otak Robot Humanoid, Investasi AI Tembus US$ 13 Miliar Menurut dia, besaran penarikan tersebut relatif kecil dibandingkan total aset yang dikelola Binance. Peretasan Binance menambah daftar panjang insiden pencurian aset kripto dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data peneliti TRM Labs, pelaku kejahatan siber mencuri aset kripto senilai US$ 2,9 miliar melalui hampir 150 insiden sepanjang tahun lalu. Pergerakan dana nasabah menjadi ujian awal bagi Binance untuk mempertahankan kepercayaan pengguna setelah insiden keamanan tersebut. Tekanan juga terlihat pada pasar stablecoin. Kapitalisasi pasar gabungan dua stablecoin terbesar, USDT dan USDC, turun sekitar US$ 1,2 miliar sejak Jumat, berdasarkan data CoinMarketCap. Penurunan kapitalisasi stablecoin umumnya terjadi ketika dana mulai keluar dari pasar aset kripto.
Baca Juga: Tesla dan Samsung Tolak Tarif Baru AS untuk Produk Vietnam, Ini Alasannya Penarikan Dana Dilakukan Bertahap Binance menyatakan proses pembukaan kembali layanan penarikan dana dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan kebutuhan pengguna. Pada tahap pertama, perusahaan membuka penarikan untuk 15 token, termasuk Bitcoin, Ether, sejumlah aset stablecoin USDC dan USDT, serta Dogecoin. Dalam pernyataan sebelumnya melalui platform X, Binance mengatakan tahapan pembukaan penarikan ditentukan berdasarkan data permintaan pengguna selama sepekan terakhir. Perusahaan juga memastikan kondisi pasar tetap stabil. Binance sebelumnya menyatakan telah menutupi sekitar US$ 6 miliar dari aset kripto yang dicuri dengan menggunakan dana perusahaan untuk membeli token pengganti. Sisa sekitar 5% aset yang belum dipulihkan terdiri dari token dengan likuiditas lebih rendah. Binance menyebutkan proses pengadaan aset tersebut membutuhkan waktu lebih lama agar dapat memenuhi jumlah yang diperlukan. Perusahaan menjelaskan angka arus keluar bersih merupakan hasil penghitungan dana yang ditarik dan disetorkan nasabah setelah insiden terjadi. Namun, platform analitik kripto DefiLlama mencatat angka arus keluar yang lebih tinggi, yakni US$ 5,81 miliar, meningkat dari data sebelumnya sebesar US$ 4,36 miliar. Binance belum memberikan tanggapan langsung mengenai pembaruan angka tersebut. Namun, juru bicara perusahaan menyatakan data DefiLlama belum mencakup aliran dana yang dipindahkan ke dompet panas (hot wallet) baru milik Binance.
Baca Juga: Belum Bayar Denda Rp223,7 Miliar, Eks PM Malaysia Najib Razak Tetap di Penjara FBI Kaitkan Peretasan dengan Kelompok Korea Utara Biro Investigasi Federal AS (FBI) pada Sabtu menyatakan kelompok peretas yang disponsori negara Korea Utara, TraderTraitor, bertanggung jawab atas serangan terhadap Binance. FBI menyebutkan aparat penegak hukum mengamati anggota kelompok tersebut mengonversi aset hasil pencurian menjadi mata uang kripto Ether. FBI juga memperkirakan pelaku akan melanjutkan proses pencucian aset melalui penggunaan teknologi terkait. Sejumlah analis sebelumnya juga mengindikasikan keterlibatan Korea Utara. Berdasarkan analisis perusahaan blockchain AS, TRM Labs dan Chainalysis, sebagian besar pencurian berlangsung hanya dalam waktu sekitar 20 menit sejak Kamis malam. Pola serangan tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan sejumlah peretasan besar sebelumnya yang dikaitkan dengan Korea Utara. Namun, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan keterlibatan Korea Utara dalam insiden tersebut belum dapat dipastikan. "Kami tidak tahu apakah ini Korea Utara, tetapi jika memang demikian, kami akan berbicara dengan Korea Utara mengenai hal ini," ujar Trump kepada wartawan.
Baca Juga: Indeks CSI300 Anjlok 8,5%, China Siapkan Langkah Stabilkan Bursa Binance Siapkan Dana US$ 6,34 Miliar untuk Tutupi Kerugian Binance menegaskan akan menanggung seluruh dampak finansial dari peretasan tersebut. Perusahaan telah menyiapkan sekitar US$ 6,34 miliar dana internal untuk menutupi kerugian akibat pencurian aset. Dana untuk membeli token pengganti berasal dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai US$ 1 miliar, yakni dana cadangan Bitcoin yang disiapkan Binance untuk melindungi nasabah apabila terjadi insiden keamanan.
Selain itu, perusahaan juga menggunakan sebagian dana Futures Insurance Fund dan kas korporasi. Co-CEO Binance Yi He mengatakan pada akhir pekan bahwa perusahaan akan menggunakan 50% dana SAFU. Binance berkomitmen mengisi kembali dana perlindungan tersebut hingga mencapai sekitar US$ 1 miliar. Yi He juga memperingatkan munculnya sejumlah modus penipuan baru dalam beberapa hari terakhir yang memanfaatkan kekacauan setelah insiden peretasan.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Dekati Level Terendah Setahun Senin (2/11), The Fed Jadi Beban