KONTAN.CO.ID - SEOUL/SINGAPURA. Binance mengklaim kondisi keuangannya tetap kuat setelah menghadapi gelombang penarikan aset kripto menyusul insiden peretasan senilai US$ 6,3 miliar. Bursa kripto terbesar di dunia tersebut menyebut arus penarikan dana kini mulai kembali normal dan kepercayaan pengguna relatif terjaga. Co-CEO Binance Richard Teng mengatakan, lonjakan penarikan dana hanya terjadi dalam 24 jam pertama setelah insiden peretasan. Setelah itu, aktivitas penarikan mulai stabil dan kembali mendekati kondisi normal. "Dalam 24 jam pertama, terjadi lonjakan penarikan dana, sebagaimana yang dapat diperkirakan. Namun, setelah itu ... kondisinya sebagian besar sudah kembali normal," ujar Richard Teng dalam acara Hong Kong Fintech Week pada Selasa (3/11/2026).
Ia juga menegaskan kondisi keuangan perusahaan masih sangat solid meskipun insiden tersebut memicu tekanan terhadap aktivitas operasional bursa. "Perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang sangat kuat," katanya.
Baca Juga: Orang Terkaya Di Dunia Sebut Menabung Sudah Tak Cocok Di Era AI Teng menambahkan, Binance telah mengganti sekitar 95% token yang terdampak peretasan. Menurut dia, perusahaan memiliki kemampuan finansial untuk menanggung kerugian tersebut. "Ini merupakan sesuatu yang dapat kami tanggung. Kami mampu melakukannya," ujarnya. Dalam unggahan di media sosial X pada Selasa, Binance juga menyampaikan bahwa jumlah deposit aset kripto per jam telah melampaui penarikan. Kondisi tersebut mencerminkan peningkatan aktivitas pengguna sekaligus stabilisasi arus dana di platform. Berdasarkan data hingga Senin (2/11/2026), nasabah Binance tercatat melakukan penarikan bersih sebesar US$ 4,72 miliar setelah insiden peretasan yang berpotensi menjadi salah satu pencurian aset keuangan terbesar sepanjang sejarah. Untuk menahan arus keluar dana dan menarik pengguna baru, Binance juga meluncurkan program promosi berupa pengembalian biaya transaksi, hadiah bagi pengguna yang memenuhi persyaratan volume perdagangan, serta imbal hasil tahunan hingga 10% untuk produk tertentu.
Korea Utara Bantah Tuduhan AS
Di tengah upaya Binance memulihkan kepercayaan pengguna, Korea Utara membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) yang menyebut negara tersebut berada di balik pencurian aset kripto senilai US$ 6,3 miliar. Badan Investigasi Federal AS (FBI) sebelumnya menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset kripto tersebut. Tuduhan ini memicu kekhawatiran di industri aset digital karena besarnya nilai kerugian yang ditimbulkan. Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan, menyebut tuduhan Washington sebagai retorika yang tidak masuk akal.
Baca Juga: Harga Emas Tergelincir, Serangan di Timur Tengah Tambah Kekhawatiran Inflasi Menurut laporan kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Selasa, Kim menilai tuduhan tersebut mencerminkan sikap permusuhan AS terhadap Pyongyang. "FBI berusaha mencap DPRK sebagai 'negara kriminal siber', dengan mengklaim bahwa mereka memperoleh informasi bahwa sebuah organisasi peretas yang 'didukung' oleh DPRK terlibat dalam insiden tersebut," kata Kim Yo Jong seperti dikutip KCNA. "Namun, pernyataan AS tersebut merupakan retorika yang tidak masuk akal dan bukan sesuatu yang baru," ujarnya. Ia juga menilai Washington sengaja membentuk opini publik internasional seolah-olah seluruh kejahatan siber di berbagai belahan dunia merupakan perbuatan Korea Utara. "Merupakan provokasi politik serius terhadap DPRK ketika AS menyesatkan opini publik internasional seolah-olah seluruh kejahatan siber di berbagai belahan dunia merupakan perbuatan kami," kata Kim. DPRK merupakan singkatan dari Democratic People's Republic of Korea atau Republik Rakyat Demokratik Korea, nama resmi Korea Utara.
Pencurian Kripto Jadi Sumber Pendanaan Korea Utara
Tuduhan terhadap Korea Utara semakin mendapat perhatian karena aktivitas pencurian aset kripto dinilai menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi program persenjataan negara tersebut. Para pakar keamanan siber menyebut kelompok peretas Korea Utara termasuk yang paling aktif melakukan pencurian aset kripto di dunia. Dana hasil kejahatan tersebut diduga digunakan untuk mendukung pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat. Perusahaan analitik blockchain Elliptic memperkirakan Korea Utara telah mencuri aset kripto senilai US$ 7,6 miliar sepanjang tahun ini. Nilai tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Meluas ke Laut Hitam, NATO Perkuat Pertahanan Korea Utara sendiri terus membantah tuduhan keterlibatannya dalam pencurian aset kripto maupun berbagai kejahatan siber lainnya. Profesor dari Institute for Far Eastern Studies, Kyungnam University, Lim Eul-chul, menilai respons cepat Pyongyang kemungkinan mencerminkan kekhawatiran bahwa tuduhan tersebut dapat mendorong upaya internasional yang lebih ketat untuk memutus sumber pendanaan negara itu. "Dengan sanksi yang sudah diberlakukan, pencurian mata uang kripto telah menjadi salah satu saluran utama Korea Utara untuk memperoleh dana bagi pemeliharaan rezim dan pengembangan senjata," kata Lim. Ia menambahkan, langkah tambahan AS yang menyasar dompet kripto, jaringan pencucian uang, dan bursa aset digital berpotensi memutus salah satu sumber pendapatan penting Korea Utara. Bank sentral Korea Selatan memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Korea Utara mencapai 47,18 triliun won atau setara US$ 35,09 miliar pada 2025. Dengan demikian, nilai peretasan Binance sebesar US$ 6,3 miliar setara dengan sekitar seperenam dari total output ekonomi negara tersebut. Sementara itu, Chainalysis memperkirakan 89% kerugian akibat peretasan kripto sepanjang 2026 berkaitan dengan Korea Utara. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 15% pada 2021. Rata-rata kerugian dalam setiap kasus peretasan yang dilaporkan juga meningkat dari US$ 50,65 juta pada 2021 menjadi US$ 185,65 juta pada 2026. Senior Manager Asia-Pacific Global Services Chainalysis, Alec Zebrick, mengatakan kelompok peretas kini cenderung menyasar bursa kripto besar karena potensi keuntungan yang lebih tinggi. "Saya kira ini bisa disebut sebagai perburuan target besar, ketika mereka menyasar bursa-bursa yang lebih besar, yang mungkin membutuhkan lebih banyak waktu dan proses yang lebih kompleks untuk diretas ... tetapi hasil yang diperoleh bisa relatif besar," kata Zebrick.
Binance Kembali Membuka Penarikan Aset Kripto
Di sisi lain, Binance terus berupaya memulihkan layanan setelah sempat membekukan penarikan dana selama lebih dari dua hari pascaperetasan. Bursa tersebut mulai kembali mengizinkan pengguna menarik sejumlah aset pada Minggu (1/11/2026) pagi. Selanjutnya, layanan penarikan untuk lebih banyak aset melalui sejumlah jaringan kembali dibuka pada Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Dituding AS Jadi Dalang Pembobolan Binance, Korea Utara: Tidak Masuk Akal! Sejak layanan penarikan kembali beroperasi, Binance mencatat arus keluar bersih sekitar 3% dari total aset yang tersimpan di platformnya. Angka tersebut dinilai relatif terbatas dan menunjukkan kepercayaan pengguna masih cukup terjaga. Untuk mempertahankan pengguna, Binance juga menggelar program bertajuk Community Appreciation Campaign yang berlangsung hingga 21 November 2026. Program tersebut menawarkan pengembalian biaya transaksi, hadiah bagi pengguna yang memenuhi persyaratan akumulasi volume perdagangan minimal US$ 10.000, serta tingkat imbal hasil tahunan hingga 10% untuk sejumlah produk penghasil imbal hasil.
Kepala DeFi Lombard, Maksym Repa, menilai respons pasar terhadap insiden tersebut menunjukkan tingkat kedewasaan dan ketahanan industri aset kripto yang semakin baik. "Reaksi harga yang relatif terbatas menunjukkan adanya tingkat kedewasaan dan ketahanan tertentu," kata Repa. Menurut dia, investor mulai mampu membedakan antara kegagalan keamanan pada bursa terpusat dan permasalahan yang terjadi pada jaringan Bitcoin itu sendiri. "Investor tampaknya mampu membedakan antara kegagalan keamanan pada bursa terpusat dan masalah pada jaringan Bitcoin itu sendiri," ujarnya.