Bio Farma mengejar target penjualan Rp 2 triliun



JAKARTA. PT Bio Farma (Persero) menargetkan penjualan tahun ini tembus Rp 2 triliun. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang sebesar Rp 1,8 triliun, berarti ada peningkatan 11,11%.

Tak cuma mengejar pertumbuhan pendapatan, Bio Farma juga berharap bottom line bisa genap menyentuh angka Rp 600 miliar. Pada tahun 2013, laba bersih produsen obat plat merah ini sebanyak Rp 570 miliar.

Porsi penjualan ekspor yang mencapai 60%-70% atau mayoritas, menjadi dasar optimisme Bio Farma. Pasalnya, pendapatan dari mengekspor dengan penerimaan dalam dollar Amerika Serikat (AS, lebih menguntungkan tatkala rupiah masih terdepresiasi seperti sekarang.


Nah, target laba bersih Rp 600 miliar tadi berdasar taksiran rata-rata nilai tukar dollar AS terhadap rupiah Rp 10.500. "Kalau kurs di atas itu, bisa lebih tinggi lagi," ujar Direktur Utama Bio Farma, Iskandar, Selasa (15/4).  

Selain porsi ekspor masih mendominasi, Bio Farma juga merasa diuntungkan dengan porsi produksi vaksin polio yang besar. Iskandar bilang, perusahaan telah menyuplai vaksin polio ke 127 negara. Dus, kontribusi dari penjualan vaksin polio terhadap total pendapatan mencapai 60%.

Namun, fakta tersebut tak lantas membikin Bio Farma bergantung begitu saja dengan vaksin andalan tesebut. Perusahaan tetap menetapkan pekerjaan rumah berupa memproduksi vaksin baru.

Adalah vaksin Pentavalen yang siap menambah katalog ekspor. Ini adalah gabungan vaksin dasar DPT-HB-HiB untuk bayi. Hanya, vaksin ini menunggu izin prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) agar bisa masuk ke pasar di negara-negara lain.  "Mudah-mudahan Juli ini izin bisa keluar," ujar Iskandar.

Sembari menunggu izin dari WHO, vaksin ini baru dipasarkan di dalam negeri. Bio Farma menargetkan vaksin ini bisa berkontribusi ke pendapatan sebesar 20% terhadap total pendapatan.

Di luar vaksin Pentavalen, dalam empat tahun terakhir ini, perusahaan itu juga tengah menggelar riset bersama Bill & Melinda Gates Foundation untuk membikin vaksin Pneumokokus. Ini adalah vaksin untuk memerangi penyakit yang menyerang paru-paru (pneumonia).

Namun, perusahaan belum menetapkan target produksi vaksin Pneumokokus. "Kami berharap riset ini bisa berhasil dan kami bisa membangun pabrik vaksin Pneumokokus di sini," terang Iskandar.

Untuk mendukung aneka strategi tahun ini, Bio Farma mengalokasikan belanja modal Rp 900 miliar. Dana ini untuk membangun pabrik vaksin baru, melengkapi pabrik di Bandung yang telah berusia puluhan tahun.

Rencananya, pabrik baru enam lantai ini akan dilengkapi teknologi lebih modern. Perusahaan bakal memulai ground breaking tahun ini dan menargetkan pembangunan rampung dalam empat tahun. "Pabrik baru kami harap bisa meningkatkan produksi menjadi 2,2 miliar dosis per tahun," kata Iskandar.

Asal tahu saja, sejauh ini, perusahaan memproduksi vaksin sebanyak 1,8 miliar dosis per tahun. Dari jumlah tersebut, 1,4 miliar dosis berupa vaksin polio.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina