Bioenergi Jadi Pasar Baru Industri Sawit, Apa Dampaknya bagi Petani?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit tidak hanya berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Namun juga membuka pasar yang semakin luas bagi hasil perkebunan sawit di dalam negeri.

Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, pasar bioenergi berbasis kelapa sawit di Indonesia saat ini bahkan telah melampaui pasar minyak goreng.

Menurut Tungkot, diversifikasi pemanfaatan kelapa sawit menjadi bioenergi membuat pasar tandan buah segar (TBS) petani semakin luas. Dengan demikian, penyerapan produksi petani tidak hanya bergantung pada permintaan industri minyak goreng.


Kondisi tersebut turut berkontribusi menjaga stabilitas harga TBS di tingkat petani dan pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan mereka.

"Harga TBS yang menguntungkan dan stabil ini bermuara pada peningkatan pendapatan petani yang semakin baik," kata Tungkot dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).

Baca Juga: APPBI: 95% Pusat Perbelanjaan di Indonesia Berada di Segmen Menengah Bawah

Potensi pengembangan bioenergi sawit ditopang ketersediaan bahan baku yang besar. Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat mencapai sekitar 16,8 juta hektare, dengan potensi produksi biomassa sekitar 272 juta ton per tahun.

Biomassa tersebut tidak hanya berasal dari minyak sawit atau crude palm oil (CPO), tetapi juga tandan kosong, cangkang hingga batang sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Saat ini, biomassa sawit juga telah digunakan sebagai bahan bakar di sejumlah pembangkit listrik di Indonesia.

Tungkot menambahkan, manfaat bioenergi sawit juga dapat dilihat dari aspek lingkungan. Pemanfaatan bioenergi dapat menjadi substitusi energi fosil, sekaligus memanfaatkan kemampuan tanaman sawit menyerap karbon melalui proses fotosintesis.

Baca Juga: Antam (ANTM) Berencana Masuk Ekosistem Baterai hingga Bangun Pabrik Emas di Gresik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News