Bioetanol E50 Belum Realistis, Pemerintah Diminta Fokus E10 dan E20



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rencana pemerintah mengembangkan bensin dengan campuran bioetanol 50% atau E50 dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Pemerintah disarankan membangun ekosistem bioetanol secara bertahap sebelum meningkatkan kadar campuran hingga E50.

Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, mengatakan pengembangan bioetanol memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda dengan program biodiesel. Salah satu persoalan utama terletak pada ketersediaan bahan baku yang berkaitan erat dengan komoditas pangan.

Menurut Ali, kondisi tersebut berbeda dengan biodiesel B50 yang didukung oleh ketersediaan bahan baku kelapa sawit dalam jumlah besar di Indonesia.


"Kalau B50 karena saya sendiri yang memimpin risetnya, saya katakan itu sangat bisa dijalankan. Kami mengkaji dari aspek teknologi, aspek harga indeks pasar, pola distribusi transportasi, mekanisme pengadaan sampai kepada hal-hal yang detail terkait DMO maupun DPO," ujarnya saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (20/9/2026).

Baca Juga: Wacana BBM E50, Industri Bioetanol Butuh Kepastian Investasi dan Bahan Baku

B50 Ditopang Pasokan Sawit

Ali menjelaskan, implementasi program B50 relatif realistis karena komponen utama biodiesel atau Fat Processing Methyl Ester (FAME) 80% berasal dari minyak kelapa sawit (CPO).

Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia dinilai memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku. Dengan kondisi tersebut, pasokan untuk mendukung program biodiesel telah memiliki basis produksi yang kuat.

"Harus banyak belajar, harus banyak membaca, bukan hanya banyak bernafsu karena berbeda sekali dengan etanol, berbeda sekali dengan E10, E20, E30," kata Ali.

Dia menjelaskan, biodiesel menggunakan bahan baku dari tanaman berminyak, sementara bioetanol mengandalkan bahan baku berupa biji-bijian dan tanaman penghasil gula.

Sejumlah komoditas yang dapat menjadi bahan baku bioetanol antara lain singkong, tebu, jagung, dan beras. Menurut Ali, ketersediaan komoditas tersebut perlu diperhitungkan secara cermat karena juga berkaitan dengan kebutuhan pangan masyarakat.

"Menurut saya tidak realistis kalau langsung E50 karena harus ciptakan dulu dong ekosistemnya," terangnya.

Pengembangan Bioetanol Perlu Bertahap

Ali menyarankan pemerintah mengembangkan bioetanol secara bertahap, dimulai dari E5 yang telah berjalan dan kemudian ditingkatkan menuju E10 sebelum masuk ke tingkat campuran yang lebih tinggi.

Menurut dia, peningkatan kadar campuran bioetanol harus berjalan beriringan dengan pengembangan ekosistem dari sisi hulu hingga hilir. Hal tersebut mencakup pembukaan lahan atau pengembangan sumber bahan baku baru, pembenahan tata niaga, hingga kajian mengenai Harga Indeks Pasar (HIP).

Kesiapan infrastruktur juga menjadi faktor penting, termasuk titik serap, produsen, transportasi, serta fasilitas pelabuhan yang digunakan untuk mendukung distribusi bahan baku.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Pemenang 6 Blok Migas,1 Entitas Milik Hashim Djojohadikusumo

"Nah itu dikaji dulu dinaikan pelan-pelan, orang B50 di mulai dari B10 sampai B50, jadi infrastrukturnya pun disiapkan secara baik titik serapnya disiapkan, produsenya disiapkan, transportingnya diatur, pelabuhan-pelabuhannya untuk mengangkut bahan bahannya dipersiapkan gak bisa langsung tiba-tiba mau E50," tegasnya.

Belajar dari Implementasi Biodiesel

Ali menambahkan, keberhasilan PT Pertamina dalam menjalankan program biodiesel tidak terjadi secara instan. Implementasi tersebut melalui proses pembelajaran sekaligus perbaikan fasilitas pendukung secara berkelanjutan.

Menurut dia, pengalaman pengembangan biodiesel dari B20 hingga B40 menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur, termasuk titik serap dan fasilitas kilang, membutuhkan persiapan dalam waktu yang tidak singkat.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu menggunakan pendekatan serupa dalam mengembangkan bioetanol. Ali mendorong agar pemerintah terlebih dahulu memastikan program E10 dan E20 berjalan dengan baik sebelum meningkatkan kadar campuran lebih tinggi.

"Kalau biodiesel oke lah kita dukung Insya Allah berhasil, tapi untuk yang E, E10 dulu lah, diperjuangkan sampai bagus, sampai uji teknologinya bagus, sampai tidak ada lagi masalah, kemudian naikkan jadi E20, dikaji lagi dari hulu ke hilir," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News