Bisnis Asuransi Perjalanan Asei Masih Positif, Ini Sentimen Penghambatnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mobilitas masyarakat yang tetap terjaga menjadi peluang bagi PT Asuransi Asei Indonesia atau Asuransi Asei untuk memperluas bisnis asuransi retail, termasuk produk asuransi perjalanan. Hingga Agustus 2026, bisnis asuransi perjalanan masih mencatatkan aktivitas yang cukup baik meski portofolionya belum sebesar produk asuransi lainnya.

Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan, bisnis asuransi perjalanan masih memiliki ruang untuk tumbuh seiring dengan mobilitas masyarakat, baik untuk perjalanan bisnis maupun leisure.

"Asuransi Asei saat ini sedang mengembangkan produk-produk asuransi retail, termasuk asuransi perjalanan. Portfolionya masih belum banyak dibandingkan produk-produk asuransi lainnya. Secara umum, bisnis asuransi perjalanan Asei pada Agustus 2026 masih menunjukkan aktivitas yang cukup baik dan tetap memiliki ruang pertumbuhan, sejalan dengan mobilitas masyarakat serta perjalanan bisnis dan leisure," ujarnya kepada Kontan, Senin (28/9/2026).


Menurut Dody, perubahan karakter konsumen menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bisnis asuransi perjalanan. Konsumen saat ini semakin mempertimbangkan harga, tetapi tetap membutuhkan perlindungan yang mudah dipahami dan diakses.

Baca Juga: Asuransi Perjalanan Berpeluang Tumbuh Saat Harga Tiket Pesawat Naik

"Namun, kami melihat karakter bisnis ini semakin berubah. Konsumen semakin sensitif terhadap harga dan pada saat yang sama semakin membutuhkan produk yang sederhana, mudah dibeli, serta memberikan manfaat yang jelas," katanya.

Oleh karena itu, Asuransi Asei tidak hanya melihat pertumbuhan bisnis berdasarkan jumlah polis yang berhasil diperoleh. Perusahaan juga memperhatikan tingkat penetrasi perlindungan asuransi dalam setiap perjalanan.

"Karena itu, bagi Asei, pertumbuhan asuransi perjalanan tidak hanya diukur dari jumlah polis, tetapi juga dari peningkatan penetrasi perlindungan pada setiap perjalanan," tambahnya.

Harga Tiket Pesawat Jadi Sentimen

Dody menyebut terdapat sejumlah faktor yang akan memengaruhi perkembangan bisnis asuransi perjalanan hingga akhir 2026. Salah satunya adalah harga tiket pesawat yang berkaitan langsung dengan biaya perjalanan masyarakat.

Menurut dia, kenaikan fuel surcharge berpotensi meningkatkan biaya perjalanan. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian masyarakat menyesuaikan frekuensi perjalanan maupun memilih destinasi yang berbeda.

Selain harga tiket pesawat, mobilitas masyarakat pada periode akhir tahun juga menjadi salah satu faktor penting. Desember secara historis menjadi salah satu periode dengan aktivitas perjalanan leisure dan kunjungan keluarga yang cukup tinggi.

Baca Juga: Yield SRBI Melandai, AAUI Dorong Asuransi Umum Rebalancing Portofolio Investasi

Peningkatan mobilitas tersebut berpotensi mendorong kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan asuransi selama perjalanan.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah pergerakan nilai tukar dan biaya perjalanan internasional. Perubahan nilai tukar dapat meningkatkan biaya perjalanan sekaligus memperbesar nilai eksposur yang perlu mendapatkan perlindungan.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap risiko perjalanan juga dinilai semakin penting. Risiko seperti keterlambatan dan pembatalan penerbangan, kehilangan bagasi, hingga kebutuhan perlindungan medis dapat menjadi pertimbangan dalam memilih asuransi perjalanan.

"Karena itu, apabila mobilitas tetap terjaga, kebutuhan asuransi perjalanan juga berpotensi meningkat," ujar Dody.

Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut, Dody melihat prospek bisnis asuransi perjalanan Asuransi Asei hingga akhir 2026 masih positif.

Meski demikian, pertumbuhan bisnis tetap akan dipengaruhi oleh daya beli masyarakat serta perkembangan harga tiket pesawat. Kondisi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan perusahaan dalam mengembangkan produk asuransi perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News