Bisnis BPR masih tumbuh di tengah tekanan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih berhasil tumbuh meskipun dihadapkan dengan tekanan pandemi Covid-19 dan himpitan dari fintech. Di saat kredit perbankan umum mengalami kontraksi tahun 2020, BPR justru masih berhasil mencetak pertumbuhan positif sebesar 1,82% secara year on year (yoy) menjadi Rp 110,7 triliun. 

Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR tumbuh 3,53% dari tahun 2019 ke Rp 106,15 triliun. Sehingga aset tercatat naik 3,3% menjadi Rp 155,07 triliun. Per akhir Desember 2020, total jumlah BPR mencapai 1.506 atau telah berkurang 36 bank dari tahun sebelumnya.

Joko Suyanto, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) mengatakan, pertumbuhan tersebut merupakan bukti bahwa BPR dan BPRS masih survive dalam menghadapi besarnya tekanan sepanjang tahun lalu. 


Tahun ini, Perbarindo optimis bisnis BPR akan tumbuh lebih tinggi lagi. Penyaluran kredit ditargetkan bisa tumbuh sekitar 7%-8% dan Dana Pihak Ketiga (DPK) dibidik meningkat 8%.

Baca Juga: Kantongi Restu Otoritas, Holding Ultra Mikro Janjikan Bunga Murah

"Kami optimis tahun ini akan lebih baik karena pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan 4,5%-5,5%. Jika itu bisa tercapai maka target kredit tersebut akan tercapai juga," kata Joko kepada Kontan.co.id, Jumat (26/3).

Menurutnya, tantangan ke depan akan tergantung pada aspek kesehatan. Namun melihat perkembangan vaksinasi yang berjalan dengan baik saat ini,  Joko menyakini Covid-19 akan semakin bisa dikendalikan sehingga ekonomi akan semakin bergerak.

Faktor lain yang bisa mendorong pertumbuhan bisnis BPR semakin cerah adalah BPR kini bisa bekerjasama dengan fintech. Sehingga keduanya tidak lagi menjadi kompetitor tetapi bersinergi untuk tumbuh bersama.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan lampu hijau bagi keduanya melakukan kerjasama melalui dua skema yakni channelling dan skema referral. Itu tertuang dalam Buku Panduan Kerja Sama BPR dan Fintech Lending yang disusun oleh OJK.

Joko mengatakan, kolaborasi yang akan dijalankan tahap pertama adalah skema channeling.  Saat ini, Perbarindo tengah melakukan proyek percontohan dengan salah satu fintech dan dalam waktu dekat akan rampung. 

"BPR nanti posisinya akan jadi lender, sedangkan fintech akan bertugas menjadi underwriter dan mengakuisisi borrower. Kerjasama yang akan dilakukan akan bentuk tripartit karena mitigasi resikonya akan kami sambungkan ke asuransi kredit," jelas Joko. 

Proyek percontohan tersebut sudah dimulai jauh sebelum buku panduan kerjasama dikeluarkan OJK. Perbarindo optimistis bisnis BPR akan semakin bergerak melalui kolaborasi dengan fintech tersebut. 

Pasalnya, produk yang disenangi masyarakat saat ini adalah yang dikemas dengan teknologi sehingga mengedepankan kecepatan dan kesimpelan.

Baca Juga: Modal Rakyat sudah salurkan pembiayaan sebesar Rp 1 triliun

BPR Hasamitra juga menyambut baik langkah OJK memberikan lampu hijau bagi BPR melakukan kolaborasi dengan fintech. Direktur Utama BPR Hasamitra I Nyoman Supartha mengatakan, faktor tersebut sudah dimasukkan bank ini dalam menyusun rencana bisnisnya tahun 2021. 

"Dampaknya ke penyaluran kredit tentu sangat bagus karena pasar kami jadi lebih luas, apalagi system scoring kredit bisa kita kolaborasi sehingga mitigasi risiko pun bisa diminimalisir. Saat ini kami dalam proses cari mitra fintech yang cocok dengan kami," kata pria yang akrab disapa Mansu itu. 

Tahun ini, BPR Hasamitra menargetkan kredit tumbuh 15,4% jadi Rp 2,31 triliun dan DPK tumbuh 17,71%. Dengan begitu aset diharapkan naik 12,96% dan laba ditargetkan bisa mencapai Rp  59,8 miliar atau tumbuh 26,4%.  Sementara tahun lalu, kredit BPR ini mengalami sedikit kontraksi yakni minus 2,6% di tengah tekanan pandemi. Sedangkan DPK yang dihimpun tumbuh 3,5%. 

Selanjutnya: OJK cabut izin usaha BPR Sewu Bali

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi