KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) diperkirakan masih akan positif hingga akhir 2026. Kinerja emiten telekomunikasi pelat merah ini ditopang oleh stabilisasi bisnis seluler dan pertumbuhan bisnis digital, terutama melalui pengembangan bisnis pusat data (data center). Diketahui, TLKM melakukan ekspansi bisnis data center melalui NeutraDC serta rencana divestasi 70% saham unit usaha tersebut. Tercatat, TLKM memiliki fasilitas JKT-1 di Cikarang dengan kapasitas desain 21,5 megawatt (MW). Namun, saat ini kapasitas yang telah beroperasi baru mencapai 3,5 MW dan sekitar 18 MW lainnya telah selesai dibangun serta seluruhnya telah dikontrak oleh pelanggan, namun masih menunggu proses penyesuaian (t
enant customization).
Baca Juga: Kinerja Reksadana Rebound di Juli 2026, Ini Sektor Penggerak Hingga Akhir Tahun Selain Cikarang, NeutraDC juga mengembangkan fasilitas hyperscale di Batam berkapasitas 18 MW yang ditargetkan siap beroperasi (
ready for service/RFS) pada 2026 dan telah sepenuhnya dikontrak oleh Gorilla Technology selaku penyewa utama. Sementara itu, fasilitas di Singapura dengan kapasitas 17,4 MW telah beroperasi penuh. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mengatakan ekspansi bisnis data center saat ini masih menjadi katalis utama TLKM. “Dengan asumsi tarif sewa hyperscale sekitar US$ 200 ribu/MW/bulan, bisnis data center berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp 1,3 triliun pada tahap awal dan meningkat menjadi Rp 2,1 - Rp 2,2 triliun saat Batam beroperasi penuh,” ungkap Sukarno kepada Kontan, Senin (3/8/2026). Meski kontribusinya terhadap total pendapatan grup masih relatif kecil, Sukarno menilai bisnis data center berpotensi menjadi sumber rerating valuasi TLKM dalam jangka panjang. Selain ekspansi NeutraDC, Sukarno melihat meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan data center akan menjadi katalis positif bagi perseroan. Peningkatan utilisasi data center, tambahan spektrum 700 MHz yang dapat meningkatkan kualitas jaringan dan efisiensi, serta potensi monetisasi aset digital melalui strategic partnership maupun penawaran umum perdana saham (IPO) NeutraDC juga dinilai dapat memperkuat fundamental dan valuasi TLKM. Di sisi risiko, TLKM masih menghadapi potensi persaingan tarif data yang lebih ketat dari ISAT dan XLSmart sehingga dapat menekan ARPU. “Selain itu, tingginya kebutuhan capex untuk ekspansi data center, perlambatan ekonomi yang dapat memengaruhi permintaan layanan digital, serta kenaikan biaya energi juga menjadi faktor yang perlu dicermati ke depan,” lanjut Sukarno. Sepanjang semester I-2026, TLKM merealisasikan belanja modal sebesar Rp 10,8 triliun, dengan lebih dari 96% dialokasikan untuk pengembangan area bisnis prioritas pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business. Selain itu, TLKM telah menyelesaikan sejumlah tahapan persiapan strategis pengalihan aset InfraNexia Tahap 2 yang ditargetkan rampung pada semester II-2026. Jika melihat dari sisi kinerja keuangan, TLKM membukukan kinerja keuangan yang positif pada semester I-2026 dengan mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9% YoY. TLKM juga mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 10,6 triliun, tumbuh 1,4% YoY. Kendati demikian, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengingatkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai kuota internet yang tidak boleh hangus berpotensi menambah ketidakpastian regulasi terhadap model bisnis layanan prabayar.
Untuk diketahui, baru-baru ini, MK melalui Putusan MK Nomor 273/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan pada 23 Juli 2026 memutuskan bahwa operator seluler wajib menyediakan pilihan layanan yang menjamin sisa kuota internet pelanggan tidak hangus secara sepihak. MK menilai sisa kuota yang telah dibeli memiliki nilai ekonomis sebagai benda tidak berwujud milik konsumen. Mempertimbangkan berbagai faktor di atas, Sukarno memberikan rekomendasi untuk
buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.630 per saham.
Baca Juga: Laba Meroket 313%, Ini Alasan Maybank Pangkas Target Harga Vale Indonesia (INCO) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News