Bisnis Karbon Kredit, Pertamina NRE Kelola 850.000 Ha Konsesi Hutan di Kalimantan



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) melihat ceruk pasar yang gurih dari bisnis karbon kredit. Untuk menangkap potensi itu pihaknya mulai menggarap proyek solusi berbasis alam pada 850.000 Hektare (ha) konsesi hutan di Kalimantan. 

Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina Power Indonesia, Fadli Rahman menjelaskan pihaknya menggali potensi dari karbon kredit dengan mengembangkan proyek solusi berbasis alam, salah satunya melalui skema reduced emission from deforestation and forest degradation (REDD). 

Proyek ini bertujuan untuk mengintensifkan kegiatan pelestarian hutan guna mengurangi pelepasan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan serta memberikan dampak positif bagi penyerapan emisi karbon dan keanekaragaman lingkungan. 


Baca Juga: Serius Garap EBT, Budget Investasi Pertamina NRE Makin Melonjak

Aktivitas penambangan pohon di sekitar konsesi lahan yang dikelola Pertamina akan dihentikan, sebagai gantinya pihaknya bersama partner menanam kembali pohon di sana.  

“Salah satunya kami bekerja sama dengan Perhutani. Sudah teridentifikasi sebanyak 9 lokasi yang akan menjadi objek dan lokasi dari proyek ini. Dari 2 jutaan hektare lahan milik Perhutani, Pertamina akan mengelola 700.000 Ha,” jelasnya di Gedung Kontan, Selasa (16/1). 

Dalam catatan sebelumnya, berdasarkan hasil kajian feasibility study Juli 2023, 9 lokasi ini memiliki potensi menghasilkan kredit karbon mencapai 270.000 ton CO2e pertahun. 

Lebih lanjut, Fadli menjelaskan, Pertamina juga akan mengelola sebagian wilayah hutan di Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk NBS. Dia bilang, IKN memiliki total lahan sekitar 220.000 Ha di mana 70.000 Ha untuk kota dan 150.000 Ha sisanya dijaga dan dikelola Pertamina. 

Baca Juga: Investasi EBT pada Tahun Ini Diprediksi Lebih Besar Dibanding 2023

“Ada potensi kredit karbon di IKN sebanyak 29 juta ton CO2e selama 30 tahun,” jelasnya. 

Model bisnis dari bisnis NBS ini, lanjut Fadli, berbentuk Kerja Sama Operasi (KSO). Pertamina yang akan mengeluarkan modal dan pemilik konsesi hutan yang mengelola. Tetapi kepemilikan proyek didaftarkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan Pertamina NRE. 

“Sehingga kami yang jual kredit karbonnya. Bisnis ini dari menjaga pohon, bisa jual karbon kreditnya ke dalam negeri dan diharapkan bisa ke luar negeri juga,” ujar dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .