Bisnis kimia BASF ikuti laju industri



JAKARTA. Memasuki tahun keempat berbisnis di Indonesia, produsen kimia PT BASF Indonesia masih melihat potensi pasar menggiurkan. Jika dulu BASF dikenal sebagai produsen pita kaset, saat ini BASF dikenal sebagai produsen kimia khusus industri.

Perusahaan asal Jerman ini menyediakan produk kimia bagi industri kertas, cat, farmasi, konstruksi, dan banyak lagi. Presiden Direktur BASF Indonesia C.P. Chan bilang, zat kimia sudah menjadi bagian dari produk sehari-hari.

Ia menyebut mulai dari bangun tidur, manusia sudah menggunakan produk kimia, seperti pasta gigi, sampo, dan sabun. Maka itu, jika industri  produsen kebutuhan perawatan tubuh itu tumbuh, bisnis produk kimia industri juga menikmati. "Produk kami dibutuhkan semua industri,” kata Chan, Senin (13/06).


Tahun 2015, BASF Indonesia membukukan penjualan € 446 juta dengan kontribusi terbesar dari produk kimianya. Tahun ini kata Chan, BASF Indonesia mengincar pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksikan 2,3%.

Saat ini, BASF mengoperasikan empat pabrik di Indonesia, salah satunya di Cengkareng, Tangerang. Pabrik di Cengkareng menjadi pabrik BASF tertua di Asia yang memproduksi dispersion dan pigment dengan kapasitas 110.000 ton per tahun. "Utilisasinya sudah hampir mendekati 100%," kata Chan.

Adapun tiga pabrik BASF lainnya ada di Merak, yang memproduksi dispersions dan pigment. Kemudian pabrik di Cikarang yang memproduksi kimia konstruksi, serta pabrik di Cimanggis yang memproduksi kimia home and care chemicals.

Chan menyebut, tiga pabrik lainnya sudah mencapai utilisasinya sekitar 80%. Produksi BASF tak hanya memenuhi permintaan pasar di Indonesia, tapi juga ekspor ke Australia dan Selandia Baru. Namun saat ini fokus bisnis tetap di pasar domestik.

Sama dengan bisnis kimia lainnya, BASF masih mengandalkan bahan baku yang impor. Chan mengklaim, sejatinya BASF telah diminta untuk membangun bahan baku di dalam negeri. "Kami sudah diimbau pemerintah, dan mulai memikirkan rencana tersebut. Kami harus bikin perencanaan matang," ujarnya.

Ada dua pertimbangan perusahaan ini tak segera membangun pabrik bahan baku kimia. Pertama nilai investasi yang tak sedikit. Kedua, skala produksi harus ekonomis. Karena itulah mereka tak bisa gegabah membuat keputusan investasi.

Tapi melihat kondisi pabrik yang sudah mendekati kapasitas produksi maksimal, BASF ingin menambah kapasitas. Namun sayang, Chan belum mau membeberkan detail rencana ekspansi tersebut. Selain rencana menambah produksi, BASF juga berencana menambah produk baru tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini