Bisnis Kuliner Berbasis Mi Masih Berkembang, Bakmi dan Ramen Berebut Pasar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis kuliner berbasis mi masih memiliki ruang pertumbuhan di Indonesia. Selain bakmi yang sudah lekat dengan konsumsi masyarakat, ramen juga terus berkembang dengan menawarkan beragam konsep dan rentang harga. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman mencapai 5,28 juta usaha pada 2024. Nilai penjualan seluruh usaha tersebut mencapai sekitar Rp1.848 triliun. Sementara itu, kategori restoran dan rumah makan mencatat nilai penjualan sekitar Rp1.361 triliun. Besarnya pasar tersebut turut membuka peluang bagi berbagai jenis kuliner, termasuk makanan berbasis mi. Wakil Ketua Umum Restoran Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Susanty Widjaya mengatakan, ramen memiliki peluang karena produknya semakin familiar bagi konsumen Indonesia. “Ramen cukup menarik karena produknya sudah semakin familiar bagi konsumen Indonesia, sama seperti bakmi, dan dapat dikembangkan dalam berbagai rentang harga,” ujar Susanty kepada KONTAN, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Terbatas, Antam (ANTM) Hadirkan Emas Batangan dan Koin Perak Edisi Kemerdekaan RI Menurut Susanty, fleksibilitas harga menjadi salah satu daya tarik kuliner berbasis mi. Pelaku usaha dapat mengembangkan produk sesuai dengan segmen konsumen yang dituju, baik melalui konsep premium maupun harga yang lebih terjangkau. Di antara berbagai kuliner berbasis mi, bakmi memiliki keunggulan, karena pasarnya sudah terbentuk lebih dahulu. Produk ini tidak hanya dikenal sebagai makanan khas, tetapi juga menjadi pilihan konsumsi sehari-hari masyarakat. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO) Stevan Lie mengatakan, karakter tersebut membuat bakmi memiliki pasar yang relatif luas. “Bakmi itu lebih ke makanan harian dan comfort food yang bisa dikonsumsi kapan saja, mau pagi, siang, sore maupun malam,” ujar Stevan kepada KONTAN baru-baru ini. Menurut Stevan, tren tersebut juga terlihat dari berkembangnya konsep restoran yang menawarkan bakmi, kwetiau, dan nasi goreng dengan harga relatif terjangkau. Model bisnis seperti ini dinilai lebih sesuai dengan kondisi daya beli masyarakat saat ini. Sementara itu bakmi mengandalkan pasar yang sudah familiar, ramen masih memperluas basis konsumennya melalui inovasi dan ekspansi gerai. Salah satu pemain yang melakukan strategi tersebut adalah Haraku Ramen. Brand Marketing Manager Haraku Ramen I Dewa Gede Ari mengatakan, Haraku kini telah memiliki 23 gerai di sejumlah kota di Indonesia. Perusahaan juga masih melihat peluang untuk memperluas jaringan ke kota-kota baru.

Baca Juga: Penerapan Zero ODOL 2027, Industri Logistik Hadapi Tantangan Biaya dan Infrastruktur “Market-nya masih tumbuh dan trennya positif. Kami juga confidence level tinggi dengan produk ini,” ujar Dewa kepada KONTAN baru-baru ini. Menurut Dewa, ekspansi Haraku mulai menjangkau sejumlah kota di luar Jawa. Perusahaan menyesuaikan produk dengan karakter konsumen di setiap daerah untuk memperluas pasar. Perkembangan tersebut menunjukkan bisnis kuliner berbasis mi masih memiliki peluang untuk tumbuh. Namun, pelaku usaha perlu menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, dan kemampuan membaca selera konsumen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News