KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Berbagai gejolak yang menekan pasar keuangan Indonesia beberapa waktu terakhir tak serta-merta mengikis minat investasi masyarakat. Itu nampak pula pada kinerja bisnis kustodian perbankan yang berhasil tumbuh selama awal tahun ini. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, investor pasar modal domestik mencapai 24,74 juta investor per Maret 2026, naik 7,73% secara tahunan (
year-on-year/yoy). Capaian itu memang melambat ketimbang pertumbuhan 9,03% yoy pada bulan sebelumnya, tetapi jauh lebih baik ketimbang pertumbuhan 1,77% yoy pada Maret 2025. Sejalan dengan tren positif tersebut, sejumlah bank kustodian juga kompak mencatatkan kinerja positif pada dana kelolaannya.
Bank Central Asia (BCA), misalnya.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengungkapkan,
asset under custody (AUC) BCA mencapai Rp 540 triliun hingga kuartal I-2026. Angka tersebut mencerminkan peningkatan 20% yoy.
Baca Juga: Kredit UMKM Terkontraksi, OJK Optimistis Tren Akan Membaik Menurut Hera, tren bisnis bank kustodian masih bakal tumbuh positif ke depannya. Di luar gejolak global dan makro yang menekan pasar saat ini, ia bilang kesadaran masyarakat akan pentingnya investasi bakal tetap mampu menopang kinerja bisnis bank kustodian. Selaras dengan peluang itu, Hera bilang BCA berkomitmen untuk senantiasa memberikan layanan kustodian yang mengedepankan keamanan dan kenyamanan nasabah. “Kami memiliki jenis layanan jasa kustodian umum untuk penatausahaan surat berharga yang diterbitkan di Indonesia maupun luar negeri, serta jasa administrasi Reksa Dana dan Kontrak Pengelolaan Portofolio Efek (KPD).” jelas Hera kepada Kontan, akhir pekan lalu. Saat ini layanan kustodian BCA pun telah bekerja sama dengan lebih dari 40 manajer investasi dan mengadministrasikan lebih dari 300 produk investasi. Produk yang termasuk di antaranya berupa reksa dana terbuka, reksa dana terproteksi, reksa dana penyertaan terbatas, reksa dana ETF, reksa dana multishare, serta kontrak pengelolaan portofolio efek. Hera menambahkan, BCA turut melayani berbagai jenis nasabah institusi/individu lainnya untuk penatausahaan surat berharga yang dimiliki, baik untuk surat berharga yang diperdagangkan di dalam maupun di luar negeri. “Selaras dengan komitmen BCA senantiasa di sisi nasabah, BCA akan terus meningkatkan layanan kustodian BCA,” katanya. Tak jauh berbeda, Bank Danamon juga mencatatkan pertumbuhan positif pada bisnis kustodiannya.
Enterprise Banking & Financial Institution Director Bank Danamon Indonesia Thomas Sudarma mengungkapkan, AUC bank mencapai lebih Rp 100 triliun per akhir Februari 2025. Thomas bilang jumlah tersebut mencerminkan pertumbuhan lebih dari 10% yoy. Thomas menyebut pada dasarnya bank kustodian memang sangat terpengaruh oleh dinamika pasar terkini, seperti kondisi geopolitik global, makroekonomi, dan tren penurunan suku bunga. Faktor-faktor tersebut memengaruhi investor untuk mengambil sikap
wait and see atau bahkan mencari instrumen investasi lainnya yang lebih stabil. Nah pada gilirannya, itu mendorong kemunculan produk reksadana baru. Namun demikian, dengan tren AUC Bank Danamon yang masih positif selama awal tahun ini, Thomas bilang pihaknya tetap optimistis pertumbuhan bisnis kustodian Bank Danamon bakal tetap terjaga hingga akhir tahun nanti.
“Danamon optimistis dapat mencapai target penghimpunan AUC sampai dengan akhir tahun 2026,” ujarnya. Sebagai wujud upayanya, Bank Danamon bakal mengoptimalkan kekuatan ekosistem Grup MUFG serta sinergi seluruh lini bisnis, yakni
Enterprise Banking & Financial Institution, Small Medium Enterprise (SME),
Consumer Banking, dan Adira Finance.
Baca Juga: Hana Bank dan Sucor AS Perluas Akses Investasi Reksa Dana Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News