Bisnis listrik masih menerangi kinerja KIJA



JAKARTA. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) bakal membangun kawasan terpadu baru di Cikarang, Jawa Barat. Pada proyek ini, KIJA akan menjalin kerjasama dengan PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN).

Kawasan terpadu ini terdiri dari hotel bintang lima, apartemen, kondominium dan pusat perbelanjaan. Kebutuhan dana untuk membangun kawasan terpadu itu sangat besar yakni US$ 1 miliar.

Dalam tahap I, KIJA memegang porsi 30% dan PLIN memegang 70% saham. Sementara tahap II, KIJA memiliki mayoritas yakni 70% saham, sedangkan PLIN sisanya.


Analis Sucorinvest Central Ghani, Michele Gabriela menilai, KIJA tidak akan kesulitan mendanai proyek tersebut. "Proyek ini dikerjakan bertahap, pendanaannya juga pasti bertahap, tidak mungkin sekaligus," kata dia. Dia pun menilai, di masa depan, proyek ini bisa berdampak positif pada keuangan KIJA karena harga lahan semakin naik.

Reza Nugraha, analis MNC Securities pun menambahkan, KIJA masih bisa menggunakan pinjaman untuk mendanai proyek baru tersebut. Pasalnya, rasio utang  terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) KIJA di kuartal I-2014 masih aman di 0,8 kali.

Reza pun yakin, di masa depan, pengembangan kawasan terpadu di Cikarang dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan KIJA. "Cikarang sebagai daerah industri yang terus berkembang dan dekat dengan ibukota," ujar dia.

Selain Cikarang, KIJA juga telah merambah wilayah lain. KIJA, antara lain, bakal mengakuisisi 2.700 hektare (ha) lahan di Kendal. Di tahap awal ini, KIJA telah menyelesaikan akuisisi 600 ha.

Analis Bahana Securities, Salman Fajari Alamsyah dalam risetnya, 30 April 2014, menuliskan, hasil penjualan pemasaran kawasan industri Kendal baru akan terasa  pada kuartal IV-2014. Karena itu, dia menilai, kontribusinya tak akan terlalu besar di ini.

Di tahun ini, KIJA masih mengandalkan penjualan lahan industri, residensial, dan recurring income dari pembangkit listrik. Nah karena bisnis lahan industri yang masih melempem, kata Michele, bisnis pembangkit listrik akan menyumbang pendapatan cukup besar bagi laba KIJA.

Di kuartal I 2014, pendapatan KIJA turun 3,6% menjadi Rp 725,83 miliar. Namun, laba bersih KIJA masih bisa tumbuh 51,4% menjadi Rp 302,52 miliar. Penurunan pendapatan KIJA, menurut Salman, karena penjualan properti dan lahan industri yang menurun. Sedangkan, kontribusi paling besar pada kuartal I-2014 berasal dari bisnis power plant sebesar Rp 322,1 miliar atau setara 44,38% dari total pendapatan KIJA.

Salman menambahkan, KIJA juga cukup efisien sehingga tetap bisa membukukan pertumbuhan laba. Dia memperkirakan, pada tahun ini, KIJA bisa membukukan pendapatan Rp 2,93 triliun dengan laba bersih Rp 652 miliar. Tahun lalu, pendapatan KIJA Rp 2,74 triliun dengan laba bersih Rp 101 miliar.

Reza memprediksi, pendapatan KIJA bisa tumbuh 28%-30% di tahun ini. Sedangkan, laba bersih akan tumbuh 30%.

Reza merekomendasikan buy saham KIJA dengan target hargta di Rp 290. Sedangkan, Salman dan Michele menyarankan hold saham KIJA dengan target harga sama, sebesar Rp 280 per saham. Rabu (28/5), harga KIJA naik 0,81% ke Rp 250 per saham.        

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana