Bisnis Makloon Kosmetik Tumbuh Saat Merek Lokal Marak, VICI Fokus Kembangkan Produk



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) melihat peluang pertumbuhan bisnis makloon kosmetik seiring meningkatnya minat pelaku usaha untuk membangun merek kecantikan sendiri. Meski demikian, perseroan belum mendorong bisnis makloon secara agresif karena masih fokus menyiapkan sejumlah produk dan merek yang akan diluncurkan.

Pendiri PT Victoria Care Indonesia Tbk, Billy Hartono Salim, mengatakan VICI tetap menerima permintaan jasa makloon. Namun, saat ini VICI masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan produksi untuk pengembangan produk internal.

“Kita sebenarnya terima, cuma kita enggak push karena kita lagi kewalahan untuk memfasilitasi produk-produk yang akan kita launching,” ujar Billy kepada Kontan, belum lama ini.


Baca Juga: Cadangan Nikel Tinggal 9 Tahun, Moratorium Smelter Pirometalurgi Perlu Direalisasikan

Menurut Billy, pertumbuhan bisnis kosmetik yang dikembangkan oleh merek-merek lokal cukup pesat. Sejak awal tahun ini, ia mengaku beberapa pelaku usaha muda mendatanginya untuk meminta saran mengenai pengembangan bisnis kosmetik.

Ia mencontohkan, ada pelaku usaha berusia sekitar 25 tahun yang mampu membangun merek kosmetik sendiri tanpa memiliki pabrik. Merek tersebut dapat mencatatkan penjualan sekitar Rp 60 miliar per tahun.

Dalam model bisnis tersebut, pemilik merek menggunakan jasa makloon untuk memproduksi barang, sementara pemasaran dan penjualan dilakukan melalui kanal digital.

Namun, Billy menyoroti kenaikan biaya platform niaga elektronik yang dapat menekan margin pelaku usaha kosmetik. 

Menurut dia, kenaikan biaya platform setiap tiga hingga enam bulan menjadi salah satu tantangan bagi merek yang mengandalkan penjualan daring.

Sejumlah pelaku usaha pun meminta masukan kepada VICI untuk mencari peluang kolaborasi. Billy mengatakan, perseroan tengah menjajaki kerja sama dengan beberapa merek, meski belum mendorong bisnis makloon secara maksimal.

Di sisi lain, VICI memiliki pola distribusi yang masih didominasi kanal luring. Billy menyebut sekitar 74% penjualan perseroan berasal dari kanal offline, melalui jaringan toko kosmetik tradisional, modern, serta penjual yang tersebar di berbagai daerah.

Baca Juga: Bank of America Ungkap Investasi Data Center di Indonesia Banyak dari Modal Asing

Menurut dia, membangun jaringan distribusi luring membutuhkan waktu yang panjang. Hal ini berbeda dengan sejumlah merek baru yang mengandalkan pemasaran digital dan jasa makloon untuk memulai bisnis tanpa harus memiliki fasilitas produksi sendiri.

Selain menjajaki peluang kolaborasi dengan merek lokal, VICI juga tengah mendiskusikan rencana akuisisi sejumlah merek untuk memperkuat portofolio produk. 

Direktur VICI Erwan Irawan Noer sebelumnya menyampaikan bahwa salah satu merek yang dibahas adalah Secret Garden, yang masih berada dalam grup usaha VICI.

Secret Garden juga menggunakan fasilitas makloon VICI. Penjajakan akuisisi tersebut merupakan bagian dari strategi pertumbuhan anorganik perseroan untuk memperluas pasar, meningkatkan profitabilitas, dan memperkuat likuiditas.

Untuk mendukung operasional, VICI menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 20 miliar hingga Rp 30 miliar pada 2026. Anggaran tersebut akan difokuskan pada modernisasi sejumlah aset dan peralatan produksi guna meningkatkan efisiensi proses produksi dan memperkuat operasional perseroan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News