Bisnis MNCN menopang kinerja Global Mediacom



JAKARTA. Kelompok usaha Global Mediacom mampu mempertahankan tren pertumbuhan kinerja keuangan. Selama Januari-Juli 2012, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) mencetak kenaikan laba bersih 21% year-on-year (yoy) menjadi Rp 656,6 miliar.

Global Mediacom pun mencatatkan laba sebelum dikurangi beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) senilai Rp 2 triliun selama Januari-Juli 2012. Jumlah itu meningkat 34% daripada EBITDA di periode yang sama tahun lalu. Dus, margin EBITDA Global Mediacom menanjak dari sebelumnya 39% menjadi 42%.

Kenaikan laba bersih Global Mediacom sejalan dengan realisasi pendapatan di sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini yang mencapai Rp 4,9 triliun. Jumlah itu meningkat 26% dibanding pendapatan Januari-Juli 2011 yang mencapai Rp 3,9 triliun.


Sebagian besar pendapatan ditopang bisnis media berbasis konten dan iklan melalui PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), yakni Rp 3,1 triliun setara 63% total pendapatan konsolidasi. Pendapatan MNCN ini tumbuh 29% dibanding setahun lalu yang senilai Rp 2,4 triliun.

Manajemen mengklaim pertumbuhan kinerja tersebut jauh di atas pertumbuhan industri yang sekitar 15%. "Pertumbuhan pendapatan dari iklan disebabkan oleh kenaikan rate card dan tingkat occupancy," kata Investor Relations Global Mediacom, Robert Satrya, dalam siaran pers, Senin (13/8). Selain itu, perhelatan Piala Eropa atau Euro Cup 2012 turut menyumbang pertumbuhan pendapatan. Tiga televisi free-to-air yang dikendalikan MNCN, yakni RCTI, MNC TV dan Global TV, mampu mempertahankan kinerja dengan pangsa pasar 39% pada prime time.

Adapun pendapatan bisnis konten MNCN naik 200% yoy menjadi Rp 40,8 miliar. Pencapaian itu disumbang MNC Channels, yang merupakan bagian dari paket dasar televisi berbayar PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) melalui tiga mereknya, yaitu Indovision, Top TV, dan Okevision. Dus, pertumbuhan bisnis konten MNCN akan sejalan dengan kenaikan jumlah pelanggan Sky Vision. Jumlah pelanggan Sky Vision pada Juli 2012 tumbuh 26% menjadi 1,47 juta. "Dengan pertumbuhan pelanggan bersih 306.000 pelanggan," ujar Robert.

Kinerja keuangan Sky Vision juga memuaskan. Pendapatan dari media berbasis pelanggan di bawah Sky Vision tumbuh 37% yoy menjadi Rp 1,3 triliun pada akhir Juli 20112. Kontribusi Sky Vision setara 27% dari pendapatan konsolidasi Global Mediacom. Kenaikan jumlah pelanggan menjadi penopang pertumbuhan pendapatan Sky Vision.

Direktur Utama Sky Vision Rudy Tanoesoedibjo mengatakan kenaikan jumlah pelanggan telah melebihi target awal perusahaan. Semula, perseroan menargetkan rata-rata jumlah pelanggan bisa naik 33.000 per bulan. Hingga akhir Juni tahun ini, kenaikan jumlah pelanggan mencapai 55.000 per bulan.

Sebelumnya, Sky Vision menambah 23 kantor cabang baru di berbagai daerah secara serempak. Menurut Rudy, dengan pembukaan cabang, maka rata-rata jumlah pelanggan bisa naik menjadi 65.000 hingga 70.000 per bulan. "Mendekati akhir tahun diperkirakan pertumbuhan jumlah pelanggan bisa 70.000," ujar dia.

Fund Manager Sinarmas Asset Management, Jeffrosenberg Tan, menilai prospek kinerja BMTR dan anak usahanya masih cerah hingga akhir tahun ini. Bisnis media tidak terlalu banyak terpengaruh krisis Eropa.

Tapi, Jeff melihat harga saham media termasuk BMTR, MNCN dan MSKY, terbilang mahal. BMTR, misalnya, memiliki price earning ratio (PER) di atas 30 kali-40 kali. PER MNCN dan MSKY juga masing-masing 60 kali hingga 80 kali. "Prospek perusahaan dan pergerakan harga sahamnnya masih bagus. Namun valuasinya sudah mahal. Untuk kondisi seperti saat ini, investor tentu akan melihat valuasi emiten yang tidak mahal," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sandy Baskoro