KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan bahwa bisnis pariwisata ikut terdampak akibat konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Bisnis pariwisata terdampak oleh terbatasnya penerbangan wisatawan dari mancanegara, khususnya yang melintasi negara-negara Timur Tengah. Sekjen PHRI Maulana Yusran mengatakan, dampak terbesarnya karena aksesibilitas yakni jalur penerbangan mengalami efek yang signifikan akibat perang di Timur Tengah. Menurutnya, wilayah Bali dinilai paling terdampak bisnis pariwisatanya.
"Bali merupakan gerbang utamanya dari tempatnya wisatawan mancanegara. Tentu dampak yang paling terasa nomor satu adalah Bali. Kalau kemudian juga Jakarta," ujar Maulana Yusran saat dikonfirmasi, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: RKAB Disetujui, Bukit Asam (PTBA) Kantongi Kuota Produksi 53,2 Juta Ton di 2026 Yusran menjelaskan bahwa pola wisatawan mancanegara di setiap daerah berbeda. Ada wilayah yang mayoritas memanfaatkan wisatawan ASEAN untuk bisnis pariwisata. Ada sejumlah strategi yang disiapkan oleh pebisnis pariwisata, khususnya untuk bisnis perhotelan. Strategi yang disiapkan salah satunya yakni konsep marketing atau pemasarannya. "Memang kalau kita bicara strategi itu untuk kita mengubah itu tidak semudah seperti yang kita bayangkan," kata Yusran. Menurut Yusran, strategi pemasaran setiap pengusaha berbeda. Ada bisnis perhotelan yang berkembang karena targetnya adalah wisatawan domestik. "Jadi saya bicaranya wisatawan. Ada yang kuatnya di pasar domestik, ada yang kuatnya di pasar wisatawan mancanegara," ucapnya. Di tengah kondisi perang Timur Tengah, bisnis perhotelan bisa memaksimalkan wisatawan domestik. "Kalau bicara pasar domestik contohnya, kekuatannya biasanya umumnya di kegiatan pemerintah misalnya," jelas Yusran. Kemudian, untuk bisnis perhotelan yang targetnya berasal dari wisatawan mancanegara, pebisnis perhotelan harus bisa menarik wisatawan yang tidak melintasi jalur Timur Tengah. "Paling utamanya mereka harus mengejar lagi dari wisatawan-wisatawan yang tidak menggunakan
airlines melalui Timur Tengah kan? Transit Dubai misalnya. Otomatis mereka kejar wisatawan yang lebih di ASEAN," kata Yusran.
Baca Juga: Pemerintah Dorong FID Proyek Abadi Masela, Tawarkan Danantara Sebagai Pembeli Gas Pasalnya, sejumlah maskapai besar internasional terdampak signifikan akibat perang Timur Tengah. "Ini kan dampak dari penutupan bandara itu kan adalah karena banyak
airlines internasionalnya contohnya yang seperti Emirates, Qatar Airlines, yang selalu banyak membawa penumpang," sebut Yusran. Selain itu, Yusran menyebut wisatawan nusantara juga mengalami dampak perang. "Tapi juga penerbangan untuk wisatawan nusantara yang ke luar, dengan tujuan utamanya adalah umrah. Itu juga pasti umrah dan haji nanti akan berdampak," jelasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News