KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis restoran ramen di Indonesia mulai menghadapi perlambatan setelah sempat ramai dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Pelemahan daya beli menjadi tantangan, terutama bagi ramen autentik Jepang yang memiliki harga jual relatif tinggi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO) Stevan Lie mengatakan, biaya produksi ramen autentik Jepang cukup tinggi. Proses pembuatan kuah membutuhkan waktu lama sehingga membuat harga jual ramen menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut membuat pasar ramen autentik lebih terbatas ketika daya beli masyarakat melemah. "Kalau daya belinya masih sangat lemah, kita mau membuat ramen yang otentik dan betul-betul sama dengan di Jepang tetapi harganya ratusan ribu, saya rasa akan tetap sulit," ujar Stevan kepada KONTAN, Minggu (9/8/2026). Baca Juga: Pajak Rumah Sewa Berpotensi Menekan Minat Investor Properti, Ini Alasannya Meski begitu, Stevan menilai bisnis ramen masih memiliki peluang. Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi mi, sehingga permintaan terhadap makanan berbahan dasar mi tetap ada. Namun, pemain perlu jeli menentukan segmen pasar. Ramen dengan harga ekonomis akan berhadapan langsung dengan bisnis bakmi lokal yang telah banyak berkembang. Sementara itu, ramen premium memiliki pasar yang lebih terbatas. Dari sisi persaingan, pemain lokal juga semakin kuat di segmen menengah. Stevan mencontohkan RamenYa! yang telah memiliki banyak gerai di pusat perbelanjaan. Adapun minat terhadap kuliner Jepang secara umum masih cukup tinggi. Menurut Stevan, tren tersebut turut didorong popularitas Jepang sebagai destinasi wisata dan ketertarikan generasi Z terhadap makanan Jepang. Untuk 2026-2027, Stevan memperkirakan tidak banyak merek ramen asal Jepang yang baru masuk ke Indonesia. Pelaku usaha cenderung bersikap wait and see sambil melihat perkembangan daya beli masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha dinilai perlu lebih selektif menentukan segmen dan konsep restoran. Menurut Stevan, peluang tetap terbuka bagi bisnis F&B yang mampu menyesuaikan produk dan harga dengan kondisi pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Bisnis Ramen di Indonesia Mulai Melandai, Daya Beli Jadi Tantangan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis restoran ramen di Indonesia mulai menghadapi perlambatan setelah sempat ramai dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Pelemahan daya beli menjadi tantangan, terutama bagi ramen autentik Jepang yang memiliki harga jual relatif tinggi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO) Stevan Lie mengatakan, biaya produksi ramen autentik Jepang cukup tinggi. Proses pembuatan kuah membutuhkan waktu lama sehingga membuat harga jual ramen menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut membuat pasar ramen autentik lebih terbatas ketika daya beli masyarakat melemah. "Kalau daya belinya masih sangat lemah, kita mau membuat ramen yang otentik dan betul-betul sama dengan di Jepang tetapi harganya ratusan ribu, saya rasa akan tetap sulit," ujar Stevan kepada KONTAN, Minggu (9/8/2026). Baca Juga: Pajak Rumah Sewa Berpotensi Menekan Minat Investor Properti, Ini Alasannya Meski begitu, Stevan menilai bisnis ramen masih memiliki peluang. Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi mi, sehingga permintaan terhadap makanan berbahan dasar mi tetap ada. Namun, pemain perlu jeli menentukan segmen pasar. Ramen dengan harga ekonomis akan berhadapan langsung dengan bisnis bakmi lokal yang telah banyak berkembang. Sementara itu, ramen premium memiliki pasar yang lebih terbatas. Dari sisi persaingan, pemain lokal juga semakin kuat di segmen menengah. Stevan mencontohkan RamenYa! yang telah memiliki banyak gerai di pusat perbelanjaan. Adapun minat terhadap kuliner Jepang secara umum masih cukup tinggi. Menurut Stevan, tren tersebut turut didorong popularitas Jepang sebagai destinasi wisata dan ketertarikan generasi Z terhadap makanan Jepang. Untuk 2026-2027, Stevan memperkirakan tidak banyak merek ramen asal Jepang yang baru masuk ke Indonesia. Pelaku usaha cenderung bersikap wait and see sambil melihat perkembangan daya beli masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha dinilai perlu lebih selektif menentukan segmen dan konsep restoran. Menurut Stevan, peluang tetap terbuka bagi bisnis F&B yang mampu menyesuaikan produk dan harga dengan kondisi pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
TAG: