Bisnis Ramen Masuk Fase Selektif, Efisiensi Jadi Kunci Bertahan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan bisnis restoran ramen semakin ketat seiring bertambahnya pemain dan tekanan biaya operasional. Kondisi ini membuat pelaku usaha perlu mengubah strategi dari sekadar mengejar ekspansi menjadi mengejar pertumbuhan yang sehat. Wakil Ketua Umum Restoran Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Susanty Widjaya mengatakan, persaingan bisnis ramen ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan pemain menjaga efisiensi dan mempertahankan pelanggan. “Persaingannya akan semakin selektif. Bukan lagi siapa yang paling cepat membuka outlet, tetapi siapa yang paling efisien dan mampu mempertahankan pelanggan,” ujar Susanty kepada KONTAN, Selasa (11/8/2026). Menurut Susanty, biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa, utilitas, dan logistik menjadi sejumlah tekanan bagi bisnis restoran. Untuk produk ramen yang menggunakan bahan impor, perubahan nilai tukar juga perlu diperhatikan.

Baca Juga: Pasar Ramen Makin Luas, PHRI: Peluang Ekspansi Masih Terbuka Di sisi lain, pelaku usaha tidak bisa leluasa menaikkan harga. Konsumen semakin sensitif terhadap harga dan value yang diterima, sehingga restoran harus menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, dan margin. Karena itu, ekspansi gerai perlu lebih selektif. Pemain harus mempertimbangkan lokasi, positioning, konsistensi produk, serta efisiensi biaya sebelum membuka gerai baru. PHRI memperkirakan 2027 menjadi fase konsolidasi dan efisiensi bagi industri restoran. Pelaku usaha yang mampu menjaga profitabilitas dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. “2027 akan menjadi fase konsolidasi dan efisiensi. Era growth at all costs menurut kami sudah tidak relevan,” kata Susanty. Dengan demikian, persaingan bisnis ramen ke depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah gerai. Kemampuan menjaga efisiensi, kualitas produk, dan loyalitas pelanggan akan menjadi kunci mempertahankan pertumbuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News