Bisnis Ritel Makin Bergeliat, Pengembang Berinovasi Hadirkan Properti Komersial



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Geliat bisnis ritel di kawasan Tangerang Raya terus menunjukkan perkembangan positif. Pertumbuhan populasi, meningkatnya mobilitas masyarakat, ekspansi pelaku usaha, serta pembangunan kawasan hunian dan pusat bisnis baru ikut mendorong kebutuhan terhadap ruang komersial.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap ruko, ruang usaha, area ritel, hingga kawasan komersial terpadu semakin menarik. Fenomena ini terlihat jelas di sejumlah kawasan strategis, terutama di kawasan Gading Serpong.

Perkembangan kawasan yang sebelumnya didominasi hunian kini semakin bergerak menjadi pusat aktivitas ekonomi dengan kombinasi fungsi perdagangan, kuliner, jasa, pendidikan, kesehatan, dan perkantoran.


Data Bank Indonesia (BI) memperlihatkan perkembangan properti komersial di wilayah Provinsi Banten, termasuk wilayah Tangerang Raya, masih tumbuh positif hingga pertengahan tahun ini.

Indeks permintaan properti komersial kategori sewa di wilayah itu pada kuartal II 2026 tumbuh 2,06% secara tahunan, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang meningkat 0,51%. Adapun indeks permintaan properti komersial jual tumbuh 0,01% pada kuartal II, setelah kontraksi 0,17% pada triwulan sebelumnya.

Baca Juga: REI Optimistis Sektor Properti Tumbuh Hingga 8% pada 2027

Dari sisi suplai, pasokan properti komersial jual hanya naik 2,3% pada triwulan kedua 2026 dan pasokan kategori sewa tumbuh 4,5%. Sedangkan indeks harga properti komersial sewa naik dari 99,73% pada kuartal I menjadi 100,15% pada triwulan II dan indeks harga untuk kategori jual stabil di level 108,04%.

Head of Research & Consulting CBRE Anton Sitorus menilai perkembangan bisnis komersial di wilayah Tangerang merupakan bagian dari siklus alami pertumbuhan kawasan. “Sebuah kawasan biasanya berkembang dari hunian, kemudian meluas menjadi pusat perkantoran, ruko, hotel, dan fasilitas komersial lainnya seiring bertambahnya populasi dan kebutuhan masyarakat,” kata dia dalam keterangannya belum lama ini.

Anton bilang, Tangerang telah lama menjadi kawasan penyangga Jakarta yang berkembang pesat. Pertumbuhan ini didukung kualitas hunian, pengembangan kawasan oleh pengembang, serta konektivitas yang semakin baik. Harga tanah Jakarta yang relatif tinggi juga membuat kawasan penyangga seperti Serpong menjadi alternatif menarik bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk di kawasan kota mandiri Gading Serpong menembus angka 120.000 jiwa. Secara lebih spesifik, untuk area yang dikembangkan oleh Paramount Land saja, jumlah penghuninya telah mencapai sekitar 70.000 jiwa.

Sementara itu, Martin Hutapea, Leads Properti, menilai pertumbuhan produk komersial di kawasan kota mandiri turut mendorong pengembangan hunian yang semakin mewah. Menurutnya, strategi pengembangan rumah mewah masih sangat relevan diterapkan di sejumlah township, terutama di Tangerang, Bekasi, dan Bogor.

Paramount Land Jawab Pasar

Melihat perkembangan tersebut, Paramount Land sebagai salah satu pengembang kawasan kota Gading Serpong terus melakukan inovasi pengembangan produk-produk komersial yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pengembang ini melihat geliat bisnis komersial di Paramount Gading Serpong semakin kencang. Itu tercermin dari jumlah tenant yang masuk ke wilayah tersebut. Data perusahaan menunjukkan ada 707 tenant baru buka sepanjang Januari-Juli 2026, di mana 104 di antaranya masuk pada bulan Juli. Ini menegaskan tingginya permintaan ruang ritel komersial di kawasan ini.

Baca Juga: Segmen Premium Jadi Penopang Pasar Kondominium di Jakarta

Menurut Ferry John Sihombing, Direktur Sales & Marketing Paramount Land, masuknya ratusan tenant baru sepanjang 2026 ke Gading Serpong menunjukkan kuatnya captive market sekaligus tingginya perputaran ekonomi di kawasan ini. “Kondisi tersebut menegaskan bahwa kawasan ini telah berkembang menjadi pusat aktivitas bisnis dan konsumsi dengan pasar yang solid,” jelas Ferry dalam keterangannya, Minggu (17/8/2026).

Kunci pertumbuhan bisnis ritel di Paramount Gading Serpong ditopang tiga faktor utama, yakni aksesibilitas, kedekatan dengan konsumen, dan ekosistem kota yang matang. Kawasan ini, misalnya, terhubung dengan akses baru Gading Serpong–BSD, sehingga mobilitas penghuni dan pengunjung lebih mudah.

Kemudian, Paramount Land mengusung konsep Everything is Here dan 10 Minutes City Living dalam mengembangkan kawasan komersial seperti Pasadena Central District seluas 40 hektare. Kawasan ini diintegrasikan dengan kebutuhan harian, sehingga penghuni dapat menjangkau fasilitas, anchor tenant, dan pusat kuliner Grand Boulevard Aniva dalam sekitar 10 menit berjalan kaki.

Lalu, ekosistem kawasan Gading Serpong juga sudah lengkap, didukung Pasar Modern Paramount, Atria Hotel, Bethsaida Hospital, sekolah dan universitas, Hampton @ Manhattan District, Hampton Square, hingga Gading Raya Golf Club.

Menangkap peluang dari perkembangan tersebut, Paramount Gading Serpong akan menghadirkan The Fines Commercial Selection, tiga produk komersial premium yang dirancang untuk menangkap pertumbuhan bisnis, yakni Maggiore Vibes, Altadena Square, dan Pasadena Square South (Tipe baru).

Baca Juga: Ketersediaan Pasokan Hunian Dinilai Jadi Kunci Daya Tarik Properti bagi Generasi Muda

Ketiganya menawarkan karakter berbeda, tetapi bertumpu pada tiga kekuatan, yakni lokasi strategis, aksesibilitas, dan captive market. Maggiore Vibes menyasar ritel premium dan flagship store F&B berskala besar, dengan posisi menghadap Boulevard Raya di koridor utama Gading Serpong–BSD.

Altadena Square mengandalkan pasar hunian premium di Pasadena Central District serta konektivitas ke akses baru Gading Serpong–BSD. Sementara Pasadena Square South (New Type) hadir dengan konsep walkable retail yang dirancang mengikuti kebutuhan bisnis dan perilaku konsumen modern.

Menurut Ferry, konektivitas dan traffic menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan bisnis maupun investasi properti komersial. Karena itu, pengembangan produk komersial Paramount Gading Serpong dilakukan dengan mempertimbangkan riset perilaku konsumen dan kebutuhan pelaku usaha.

“Konektivitas akses jalan baru Gading Serpong–BSD dan konsep 10 Minutes City Living secara otomatis memotong batas antarkawasan. Hal ini membuat bisnis F&B dan ritel di sini memiliki daya jangkau pasar yang jauh lebih luas hingga ke tingkat regional,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News