Kendati bukan kudapan asli Indonesia, tahu sudah menjadi makanan favorit bagi masyarakat di tanah air. Hampir semua orang menyukai makanan yang terbuat dari endapan perasan kedelai ini. Makanan asal negeri China ini bisa dimasak dengan berbagai proses penyajian. Misalnya dikukus, rebus, bakar, atau digoreng. Karena mudahnya cara penyajian tahu, kini semakin banyak bermunculan varian penganan dan camilan yang serba berbahan tahu. Salah satunya adalah tahu goreng yang diisi campuran kol, wortel dan cabai rawit hijau atau merah. Camilan ini lazim disebut tahu pedas. Belakangan ini, semakin banyak pelaku usaha di Indonesia yang menekuni bisnis tahu pedas. Bahkan, di antara mereka, sudah menawarkan kemitraan kepada masyarakat.
Pada 2014, KONTAN sempat mengulas kembali kemitraan Kuch2hotahu. Pada tahun lalu, Kuch2hotahu sudah memiliki 1.000 mitra yang tersebar di penjuru Indonesia termasuk Manado dan Papua. Kini, pada 2015, Kuch2hotahu mampu menjaga eksistensi bisnisnya dengan jumlah gerai masih bertahan 1.000 unit. Bahkan, menurut Martha, staf pemasaran Kuch2hotahu, saat ini pihaknya berencana ekspansi ke Malaysia. “Kami masih negosisasi dengan mitra di Penang, Malaysia,” katanya. Untuk menjaring banyak mitra, Kuch2hotahu tak mengubah harga paket investasi kemitraan. Saat ini, Kuch2hotahu masih tetap menawarkan tiga paket investasi. Pertama senilai Rp 8,5 juta untuk paket booth reguler, kedua, Rp 10 juta paket booth Minikuch, dan ketiga, Rp 12 juta paket Maxikuch. Namun, harga paket ini hanya berlaku di Pulau Jawa. Untuk di luar Jawa, harga paket booth reguler Rp 9,5 juta, Rp 12 juta untuk paket Minikuch, dan senilai Rp 15 juta untuk paket Maxikuch. Hanya, harga jual Kuch2hotahu naik dari Rp 3.000-Rp 5.000 jadi Rp 5.000-Rp 8.000 per porsi. Kenaikan harga lantaran Kuch2hotahu menambah varian rasa. Dari tujuh varian menjadi 25 rasa dengan level kepedasan berbeda. Varian terbaru adalah sambal hijau dan sambal dewa. Martha menambahkan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan 30 varian rasa lagi yang siap diluncurkan secara bertahap. "Kami punya menu Nasi Kuchel, semacam nasi goreng ala Kuch2hotahu," katanya. Kuch2hotahu juga melakukan inovasi kemasan produk setiap bulan. Kini, desain kemasannya dilengkapi papercraft. "Alhamdulillah, banyak yang suka. Selain lebih murah, kemasannya bisa buat mainan anak-anak," imbuhnya. Sejauh ini, sambung Martha, bisnis Kuch2hotahu hanya terkendala aturan jarak yang dibuat pusat. Yakni, jarak antargerai Kuch2hotahu dibatasi minimal 2 kilometer (km). Padahal, banyak mitra berminat membuka gerai dengan lokasi kurang dari 2 km dari gerai lainnya. Di tahun ini, pihat pusat menargetkan gerai Kuch2hotahu bisa 1.500 unit. • Tahu Jeletot Taisi Usaha ini didirikan oleh Rudi Parlinggoman Sinurat pada tahun 2012 di Depok, Jawa Barat. Pada 2013, Rudi membuka tawaran kemitraan. Pada September 2014, ketika KONTAN mengulas kemitraan ini, Tahu Jeletot Taisi telah memiliki 60 gerai. Rinciannya, lima gerai punya pusat dan sisanya milik mitra yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Kini, pada 2015, gerai Tahu Jeletot Taisi telah bertambah menjadi 110 unit. Gerai pusat tetap lima unit, sisanya milik mitra. Dus, hanya berselang setahun, Tahu Jeletot Taisi telah menambah 50 mitra. Menurut Rudi, penambahan gerai yang cukup pesat, salah satunya dipicu perkembangan usaha mitra. "Saya sendiri juga tidak gencar-gencar amat mencari mitra baru. Bersyukur saja jika mitra bertambah banyak," kata Rudi. Untuk mengembangkan kemitraan Tahu Jeletot Taisi, Rudi mengubah paket investasi kemitraan. Jika sebelumnya paket investasi hanya tersedia satu macam dengan nilai Rp 10 juta, kini ada dua paket pilihan. Yakni, paket senilai Rp 7,5 juta dan Rp 15 juta. Pada masing-masing paket investasi, mitra akan mendapatkan fasilitas yang sama. Perbedaannya hanya terletak di ukuran booth. Selain booth, fasilitas yang didapatkan mitra adalah perlengkapan memasak, branding, bahan baku awal, dan perlengkapan tambahan lainnya.