Bisnis Telekomunikasi Djarum Tengah Berbenah, Intip Saham Pilihan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten yang terafiliasi dengan Djarum tengah berbenah. Khususnya, perusahaan yang bergelut di sektor telekomunikasi di bawah naungan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). 

Yakni, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang sudah mengantongi persetujuan untuk go private dan delisting dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 

Dari sisi kinerja, perusahaan infrastruktur telekomunikasi milik Djarum ini masih mencetak pertumbuhan yang solid. TOWR, misalnya, yang meraup pendapatan Rp 3,55 triliun atau tumbuh 10,28% secara tahunan atau Year on Year (YoY). 


Baca Juga: POJK Soal RWA Digodok, Tokocrypto Sebut Tokenisasi Emas Paling Potensial

Dari sisi bottom line, laba periode berjalan TOWR mencapai Rp 972,11 miliar di kuartal I-2026. Raihan ini melonjak 20,75% YoY dari posisi kuartal I-2025 yang sebesar Rp 805,04 miliar. 

Sementara IBST dan SUPR mencatatkan penurunan kinerja. Di mana, pendapatan IBST turun 5,08% YoY menjadi Rp 198,56 miliar dengan laba periode berjalan mencapai Rp 45,37 miliar yang merosot 30,11% secara tahunan. 

Pendapatan SUPR mengalami penurunan sekitar 1,36% secara tahunan menjadi Rp 459,71 triliun di kuartal I-2026. Dari sisi bottom line, laba bersih SUPR turun 22,37% YoY menjadi Rp 248,50 miliar. 

Head of Research KISI Muhammad Wafi mengatakan rencana go private dan delisting SUPR dan IBST merupakan katalis positif bagi TOWR sebagai induk usaha. 

“Keputusan go private merupakan bagian dari restrukturisasi Grup Sarana Menara Nusantara untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan aset dan operasional,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (9/6). 

Wafi bilang dengan harga penawaran tender sukarela yang tergolong premium di atas harga pasar menunjukkan bahwa Grup Djarum memiliki permodalan yang kuat dan cash flow yang solid dari bisnis menara.

Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus bilang delisting SUPR dan IBST mencerminkan upaya Grup Djarum untuk menyederhanakan struktur kepemilikan dan meningkatkan fleksibilitas. 

“Langkah ini cenderung positif bagi TOWR karena memungkinkan konsolidasi aset dan efisiensi operasional yang lebih baik dalam grup,” katanya. 

Menurut Nico, harga pelaksanaan voluntary tender offer yang permium menunjukkan kapasitas permodalan yang kuat serta keyakinan pemegang saham pengendali terhadap nilai dan prospek jangka panjang aset menara telekomunikasi. 

Untuk sisa 2026, Nico menyebut BBCA dan TOWR bisa menjadi pilihan yang menarik. Menurutnya, BBCA diuntungkan oleh fundamental yang kuat, kualitas aset yang baik, serta kemampuan menjaga profitabilitas di tengah era suku bunga yang relatif tinggi. 

“Sedangkan, TOWR memiliki karakter pendapatan yang stabil dan terjamin dari bisnis penyewaan menara yang didukung pertumbuhan internet dan kebutuhan akan data,” ucapnya. 

Sementara itu, Wafi menyebut TOWR paling menarik diantara entitas Grup Djarum lainnya dan BBCA yang tergolong defensif di era suku bunga tinggi. Untuk BELI, dia menyarankan untuk hidindari sampai ada jalur profitabilitas yang lebih jelas. 

Baca Juga: Pradiksi Gunatama (PGUN) Targetkan Omset Rp 973 Miliar di Tahun 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News