Bitcoin Anjlok Lagi, Peluang Reli Jangka Pendek Dinilai Terbatas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin kembali anjlok setelah sempat menunjukkan pemulihan pada akhir Mei 2026. Aset kripto terbesar itu sebelumnya sempat mengalami tren rebound, hingga menembus kisaran US$ 80.000-an. Tetapi, sepekan terakhir harganya turun signifikan.

Melansir Coin Market Cap pada Senin (8/6/2026) pukul 16.40 WIB, harga bitcoin (BTC) berada di level US$ 63.240 atau menurun 13,18% dalam sepekan, bahkan menyusut 21,19% sebulan terakhir.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai pelemahan Bitcoin kali ini dipicu kombinasi sejumlah sentimen negatif yang menekan minat investor terhadap aset berisiko.


Baca Juga: IHSG Ambruk 4,52% ke 5.342, Top Losers LQ45: TLKM, HRTA dan ISAT, Senin (8/6)

Menurut dia, reli bitcoin menuju level US$ 80.000 terhenti setelah terjadi arus keluar dana dari instrumen exchange traded fund (ETF) kripto serta aksi profit taking yang cukup besar di level harga tersebut.

"Beberapa support kunci gagal mempertahankan harga di tengah tekanan inflasi dan sentimen risk-off vang mulai berkembang menyusul potensi kondisi suku bunga higher for longer," ujar Fahmi kepada Kontan, Senin (8/6/2026)

Selain itu, meningkatnya ketidakpastian geopolitik global turut memperbesar volatilitas pasar dan menekan pergerakan aset kripto. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pasar kembali melemah sehingga rebound yang sempat terjadi sulit bertahan dalam jangka panjang.

Meski demikian, Fahmi menilai koreksi yang terjadi justru membuat valuasi Bitcoin dan sejumlah aset kripto utama menjadi lebih menarik bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang.

Ia mengatakan kondisi oversold yang terbentuk akibat serangkaian tekanan pasar membuka peluang akumulasi bagi investor yang masih memiliki keyakinan terhadap prospek aset digital.

Di tengah ketidakpastian pasar saat ini, Fahmi menyarankan investor ritel untuk tetap fokus pada aset kripto yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas besar, termasuk bitcoin serta sejumlah altcoin utama.

Menurutnya, prospek jangka panjang Bitcoin maupun altcoin berkapitalisasi besar masih positif. Hal itu didukung oleh terus berkembangnya adopsi institusional serta semakin jelasnya arah regulasi kripto di Amerika Serikat.

"Terlepas dari koreksi yang terjadi, perkembangan fundamental dan adopsi institusi terus berjalan semakin signifikan. Terlebih dengan arah regulasi AS terhadap kripto yang semakin jelas saat ini, strategi seperti akumulasi aset besar maupun eksplorasi emerging strategic opportunity di proyek-proyek altcoin inovatif menarik dipertimbangkan," katanya.

Untuk prospek jangka pendek, Fahmi melihat peluang reli besar bitcoin pada sisa semester I 2026 relatif terbatas. Pasalnya, ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik, sementara inflasi yang tinggi membuat peluang penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral semakin mengecil dalam waktu dekat.

Meski demikian, ia menilai peluang rebound tetap terbuka mengingat harga Bitcoin saat ini telah mengalami koreksi cukup dalam.

"Jika tren aliran dana institusi kembali membaik, rebound menuju level US$ 70.000 masih cukup masuk akal untuk terjadi," pungkas Fahmi.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp 18.188 Per Dolar AS Hari Ini (8/6), Rekor Terburuk Lagi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News