Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) berpotensi bergerak volatil menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pada Rabu (14/10/2026), yang akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan pergerakan aset kripto.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (13/10/2026) pukul 20.40 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 83.245, turun sekitar 3,39% dalam dalam sepekan, meski masih mencatatkan kenaikan 8,65% dalam sebulan terakhir.

Pelaku pasar mencermati dua skenario utama, yakni harga Bitcoin berisiko turun di bawah US$ 80.000 jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan atau berbalik menguat menuju US$ 86.000 apabila tekanan inflasi mereda.


Bitcoin saat ini kembali bergerak di atas US$ 83.000 setelah tertekan oleh aksi ambil untung, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi tantangan karena investor menantikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Baca Juga: Harga Bitcoin Terkoreksi Lagi, Investor Wajib Cermati Tiga Sentimen Ini

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menyebut inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga Bitcoin hingga di bawah US$ 80.000.

Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi berpeluang mendorong harga Bitcoin menuju US$ 86.000 atau lebih tinggi.

"Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar bisa kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini berpotensi menekan Bitcoin melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah,” kata Yudhono.

Selain data Consumer Price Index (CPI), pelaku pasar juga akan mencermati data Producer Price Index (PPI) pada 15 Oktober serta pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada 16 Oktober. Ketiga agenda tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter AS.

Yudhono menilai pemulihan Bitcoin akan lebih meyakinkan apabila didukung oleh kembalinya arus dana masuk ke produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di AS. Sebelumnya, arus dana keluar yang signifikan mencerminkan permintaan institusional yang belum konsisten.

Baca Juga: Arah Bitcoin di Oktober Dibayangi Sentimen The Fed dan Regulasi Kripto

“Pemulihan harga Bitcoin tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga pada dukungan permintaan yang nyata. Jika arus dana masuk ETF kembali menguat, hal ini berpotensi mendukung pemulihan harga,” ujarnya.

Selain arus dana ETF, investor juga perlu mencermati pergerakan harga minyak, ketegangan geopolitik, data inflasi AS, dan arah kebijakan suku bunga The Fed. Berbagai faktor tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar serta minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Yudhono mengingatkan investor agar tidak hanya berfokus pada target harga, tetapi juga menerapkan pengelolaan risiko. Langkah tersebut antara lain mengatur ukuran posisi, menentukan batas kerugian, dan berhati-hati dalam menggunakan leverage.

“Jika melihat kondisi pasar saat ini, Bitcoin berpotensi bergerak dalam rentang US$ 75.000-US$ 100.000 hingga akhir 2026, dengan asumsi tidak ada guncangan besar pada ekonomi global,” tutup Yudhono.

Baca Juga: Bitcoin dan Ether Melemah Sepekan, Prospek Pemulihan Bergantung pada The Fed

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: