Bitcoin Berpotensi Tembus US$150.000, Ini Syaratnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin berpotensi bangkit dari tekanan harga yang sedang berlangsung dan menembus level US$150.000 pada akhir tahun, menurut proyeksi terbaru dari perusahaan riset investasi global, Bernstein.

Saat ini, harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran US$66.602, dan sejumlah faktor teknikal maupun fundamental dinilai akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Berikut sejumlah prasyarat penting yang dinilai dapat membuka jalan bagi reli besar Bitcoin menuju fase bull market baru.

Bitcoin Harus Bertahan di Atas Garis Tren Kunci 200-Minggu


Salah satu indikator teknikal paling krusial bagi Bitcoin adalah 200-week Simple Moving Average (SMA). Secara historis, garis rata-rata pergerakan 200 minggu ini menjadi penentu transisi dari fase bearish menuju siklus bullish baru.

Baca Juga: Bitcoin (BTC) Melemah ke US$66.224, Level US$69.000 Jadi Penentu Arah Pasar

Pada siklus 2015 dan 2018, harga Bitcoin menyentuh area 200-week SMA sebelum memasuki tren kenaikan multiyear. Pada bear market 2022, harga sempat menembus di bawah level tersebut, tetapi pelemahan itu tidak berlangsung lama.

Selama Bitcoin mampu bertahan di atas 200-week SMA, risiko terjadinya kapitulasi panjang seperti tahun 2022 akan berkurang. Hal ini sekaligus menjaga peluang terbukanya fase bull market baru.

Arus Investor Baru Harus Berbalik Positif

Faktor penting lainnya adalah kembalinya arus dana dari investor baru. Hingga Februari, dompet yang melacak pemegang pertama kali dan investor jangka pendek mencatat arus keluar kumulatif sekitar US$2,7 miliar—tertinggi sejak 2022.

Menurut analis on-chain yang berafiliasi dengan CryptoQuant, IT Tech, kondisi saat ini menyerupai fase pasca-all time high (ATH), di mana pembeli marginal keluar dari pasar dan harga bergerak lebih banyak karena rotasi internal, bukan arus masuk dana baru.

Dalam siklus sebelumnya—termasuk 2020, 2021, dan 2022—pembalikan tren bullish yang berkelanjutan hanya terjadi ketika arus dana investor baru kembali ke wilayah positif secara tegas.

Sinyal awal mulai terlihat setelah arus dana bersih Bitcoin ETF kembali positif pada awal pekan ini. Jika tren ini berlanjut, hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa minat investor baru mulai pulih.

Dominasi Tether Harus Turun

Pergerakan stablecoin, khususnya Tether (USDT), juga menjadi indikator penting. Pangsa USDT terhadap total kapitalisasi pasar kripto naik dalam beberapa pekan terakhir dan menguji zona resistensi 8,5%–9,0%.

Kenaikan dominasi USDT menunjukkan investor cenderung memarkir dana di aset yang lebih aman dan menghindari risiko. Sebaliknya, penurunan dominasi biasanya menandakan rotasi modal kembali ke Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Sejak November 2022, setiap kali dominasi USDT tertolak dari area 8%–9%, Bitcoin mengalami reli signifikan. Salah satu penolakan memicu kenaikan 76% dalam 140 hari, sementara lainnya diikuti lonjakan 169% dalam 180 hari.

Baca Juga: Standard Chartered Pangkas Target Harga Bitcoin 2026 Menjadi Segini

Sebaliknya, ketika dominasi USDT menembus batas atas pada Mei 2022, Bitcoin justru anjlok 45%. Korelasi terbalik ini menunjukkan bahwa penurunan dominasi Tether menjadi salah satu prasyarat penting bagi dimulainya bull run baru Bitcoin.

Kekhawatiran Quantum Computing Harus Mereda

Sentimen lain yang membayangi pasar adalah potensi ancaman komputasi kuantum terhadap sistem kriptografi Bitcoin. Sejumlah pihak menyebut sekitar 25% alamat Bitcoin berpotensi berisiko jika teknologi quantum berkembang pesat.

Namun, beberapa pakar keamanan menilai ancaman tersebut masih jauh dari realisasi. Pada November 2025, CEO Blockstream, Adam Back, menyatakan bahwa Bitcoin tidak menghadapi ancaman kuantum yang berarti dalam 20 hingga 40 tahun ke depan. Ia menambahkan bahwa jaringan Bitcoin dapat disiapkan menjadi “quantum ready” sebelum ancaman tersebut menjadi nyata.

Platform pengembang Bitcoin Optech juga menilai risiko jangka pendek hanya akan terjadi pada kasus tertentu, seperti penggunaan ulang alamat, bukan pada seluruh jaringan sekaligus.

Sejumlah institusi besar seperti Coinbase dan Strategy telah meluncurkan inisiatif peningkatan keamanan Bitcoin dengan melibatkan para ahli dan menyusun peta jalan pembaruan sistem.

Upaya ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan investor menjelang potensi bull market 2026.

Pemangkasan Suku Bunga The Fed Jadi Katalis

Faktor makroekonomi juga berperan besar. Peluang Bitcoin memasuki siklus bullish pada 2026 meningkat apabila bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, merealisasikan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga tahun depan, sebagaimana tersirat dalam harga kontrak berjangka CME per Februari.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya menurunkan daya tarik aset berbasis imbal hasil seperti obligasi pemerintah AS, sehingga investor cenderung mencari imbal hasil lebih tinggi di aset berisiko seperti saham dan kripto.

Baca Juga: Bitcoin Rontok 45%, Dekati Dasar Bear Market

Analis State Street Corp, Lee Ferridge, bahkan memperkirakan bahwa Donald Trump dapat mendorong ketua The Fed yang baru untuk melakukan hingga tiga kali pemangkasan suku bunga pada 2026.

Jika skenario tersebut terealisasi, minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, berpotensi meningkat signifikan.

Prospek Bitcoin Menuju US$150.000

Secara keseluruhan, peluang Bitcoin menembus US$150.000 pada akhir tahun bergantung pada kombinasi faktor teknikal, arus modal, stabilitas sentimen, serta dukungan kondisi makroekonomi global.

Jika harga mampu bertahan di atas 200-week SMA, arus dana investor baru kembali positif, dominasi Tether menurun, kekhawatiran quantum mereda, dan The Fed memangkas suku bunga, maka skenario bull market besar pada 2026 menjadi semakin kuat.

Bagi investor, dinamika ini menjadi indikator kunci dalam membaca arah pergerakan pasar kripto dalam jangka menengah hingga panjang.

Selanjutnya: Konser Masuk Dunia Virtual, Roblox Jadi Alternatif Hiburan Baru

Menarik Dibaca: Konser Masuk Dunia Virtual, Roblox Jadi Alternatif Hiburan Baru