Bitcoin Bertahan di Atas US$ 80.000 Sebulan Terakhir, Cermati Risiko Koreksi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah berhasil bertahan di atas US$ 80.000 selama sebulan terakhir, Bitcoin masih berpeluang melanjutkan pemulihan (rebound) hingga akhir 2026. Namun, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan potensi pelemahan arus dana investor menjadi risiko yang perlu dicermati pelaku pasar kripto.

Koreksi tajam pada Juni 2026 sempat membawa Bitcoin ke level US$ 60.000. CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis melihat pemulihan harga Bitcoin saat ini ditopang oleh investor institusional, arus dana ke produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin, serta membaiknya sentimen pasar setelah koreksi tajam pada Juni 2026.

Selain itu, penutupan posisi jual (short covering) oleh trader turut mendorong kenaikan harga aset kripto tersebut.


Meski demikian, Yudhono bilang, ketahanan Bitcoin saat ini belum cukup untuk memastikan terbentuknya tren kenaikan jangka panjang yang berkelanjutan. Memang, meski telah terlihat pemulihan harga, Bitcoin hingga saat ini masih volatil.

Baca Juga: Kasus Pelanggaran Pasar Modal, OJK Sudah Jatuhkan Denda Rp 2,52 Triliun

Melansir Coin Market Cap pada Jumat (23/10) pukul 14.15 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 81.621 atau melemah 0,69% secara harian dan turun 5,55% dalam sebulan terakhir.

“Menurut saya, kondisi ini menunjukkan peluang bullish, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa tren kenaikan jangka panjang telah terbentuk,” ujar Yudhono kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, keberlanjutan reli Bitcoin masih bergantung pada konsistensi permintaan di pasar spot dan arus dana ETF. Jika kedua faktor tersebut melemah, Bitcoin berisiko kembali terkoreksi. Katanya, kemampuan Bitcoin mempertahankan level US$ 80.000 sebagai area support menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan investor.

Di sisi lain, suku bunga global yang relatif tinggi masih menjadi tantangan bagi pasar kripto. Imbal hasil obligasi yang menarik dapat mendorong investor beralih ke instrumen berisiko lebih rendah. Ketidakpastian ekonomi, arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed, serta tekanan di pasar saham global juga berpotensi mengubah sentimen investor dengan cepat.

Yudhono menjelaskan, jika The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan di akhir tahun ini, Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya pendanaan dan kecenderungan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Misal itu terjadi, pada akhir 2026 harga Bitcoin berpotensi terkoreksi ke kisaran US$ 75.000-US$ 78.000 jika tekanan jual meningkat.

“Risiko koreksi yang lebih dalam juga terbuka apabila kenaikan suku bunga diikuti penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan arus dana keluar dari ETF. Dalam skenario tersebut, harga Bitcoin berpotensi turun ke kisaran US$ 68.000-US$ 70.000,” bidik Yudhono.

Di tengah kondisi tersebut Yudhono bilang, bagi investor, Bitcoin masih layak dipertimbangkan sebagai instrumen investasi, terutama bagi investor dengan tujuan jangka menengah hingga panjang. Tapi, investor juga dapat mencermati sejumlah altcoin, seperti HYPE, NEAR, dan WLD, yang memiliki katalis berbeda.

Baca Juga: Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Semen Ini

Menurutnya, HYPE berpotensi memperoleh dukungan dari perkembangan ekosistem perdagangan derivatif terdesentralisasi Hyperliquid. Sementara itu, NEAR menawarkan eksposur terhadap pengembangan infrastruktur blockchain untuk kecerdasan buatan (AI) dan transaksi lintas jaringan.

Adapun WLD berkaitan dengan pengembangan teknologi identitas digital melalui World ID, termasuk untuk membantu membedakan pengguna manusia dari bot.

“Selain altcoin, investor juga dapat mempelajari tokenized stock. Bagi investor kripto Indonesia, kategori ini dapat menjadi alternatif untuk mempelajari eksposur terhadap saham global melalui ekosistem aset digital,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News