Bitcoin Bertahan di Atas US$ 80.000, tetapi Tren Bullish Belum Terjamin



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin berpeluang melanjutkan pemulihan hingga akhir 2026, tetapi masih dibayangi ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Permintaan investor institusional melalui produk Bitcoin exchange-traded fund (ETF) menjadi salah satu penopang harga.

Harga Bitcoin berhasil bertahan di atas US$ 80.000 selama sebulan terakhir, setelah koreksi tajam pada Juni 2026 yang membawa Bitcoin ke level US$ 60.000

Melansir Coin Market Cap pada Jumat (23/10) pukul 18.05 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 81.705 atau melemah 0,22% secara harian dan turun 5,16% dalam sebulan terakhir.


Baca Juga: Pendapatan PTBA Diproyeksi Melesat Didukung Logistik Kuat, Cek Rekomendasi Sahamnya

Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, mengatakan pemulihan harga Bitcoin dari level terendah itu didorong oleh permintaan investor institusional lewat ETF. Ia mencatat, sepanjang September, spot BTC ETF mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$ 2,6 miliar. Sebagian besar dana tersebut masuk setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Namun, pemulihan ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Yield obligasi AS yang tinggi, harga minyak yang masih tinggi, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat membatasi kenaikan harga Bitcoin.

“Berdasarkan analisis kami, kondisi saat ini masih mencerminkan fase pemulihan yang rentan dan belum sepenuhnya menandakan tren bullish yang berkelanjutan. Prediksi kami, arah pergerakan BTC akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan konsistensi arus dana masuk ke spot BTC ETF,” ujar Andy kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).

Menjelang akhir tahun, keputusan dan sinyal kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor. Andy menyoroti pertemuan The Fed pada 28 Oktober mendatang, dengan probabilitas suku bunga ditahan diperkirakan mencapai 86%. Setelah itu, perhatian pasar juga dapat tertuju pada sinyal kebijakan untuk Desember.

Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga, Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan harga dari level saat ini. Sebaliknya, inflasi yang mereda dan arus dana masuk ETF yang konsisten dapat membuka peluang pemulihan lebih lanjut.

Baca Juga: Insentif PPN Nataru Jadi Katalis Garuda Indonesia (GIAA), Ini Saran Analis

Andy memperkirakan harga Bitcoin berpotensi bergerak dalam kisaran US$ 72.000-US$ 95.000 hingga akhir 2026. Skenario dasar yang digunakan adalah konsolidasi, sehingga BTC masih membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk menembus level harga yang lebih tinggi.

Di tengah ketidakpastian pasar, Andy menilai Bitcoin tengah berada dalam fase konsolidasi setelah mencapai titik terendah (bottom). “Secara historis, Bitcoin biasanya akan menghabiskan waktu beberapa bulan di fase ini sebelum kembali melanjutkan momentum bullish-nya,” jelasnya.

Bagi investor, pilihan untuk menambah eksposur ke aset kripto lain atau altcoin juga terbuka, meski tetap bergantung pada toleransi risiko masing-masing investor.

Untuk investor dengan toleransi risiko tinggi, Andy menyebut sejumlah altcoin berkapitalisasi pasar besar yang dapat dicermati, seperti Ethereum, Solana, dan Hyperliquid, untuk dipertimbangkan dalam portofolio pada siklus pasar berikutnya.

Selain altcoin, aset tertokenisasi atau tokenized real-world assets (RWA) juga dinilai relevan sebagai salah satu pilihan diversifikasi portofolio. Melalui teknologi blockchain, aset tertokenisasi dapat memberikan eksposur terhadap aset lain, seperti saham perusahaan global dan emas.

“Meski demikian, setiap investor tetap perlu memahami karakteristik, risiko, dan mekanisme dari masing-masing aset serta melakukan analisis secara cermat sebelum berinvestasi,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News