KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin dan Ether menguat lebih dari 14% dalam sepekan terakhir. Penguatan ini terjadi di tengah arus dana institusional yang masih positif ke pasar kripto. Berdasarkan data CoinMarketCap, Rabu (23/9/2026) pukul 15.40 WIB, Bitcoin berada di level US$ 86.206, naik 0,39% dalam 24 jam. Bitcoin menguat 14,21% dalam sepekan dan 11,80% dalam sebulan. Ether juga naik 0,27% secara harian menjadi US$ 2.745. Dalam sepekan, Ether menguat 14,87% dan 12,08% dalam sebulan.
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra mengatakan, aktivitas investor institusional menjadi salah satu faktor yang banyak memengaruhi pergerakan Bitcoin dan Ether. Hal ini tercermin dari inflow ETF yang positif dalam beberapa pekan terakhir. “Pergerakan Bitcoin dan Ether belakangan ini cukup banyak dipengaruhi oleh aktivitas investor institusional, terlihat dari arus masuk (inflow) ETF yang positif dalam beberapa minggu terakhir,” ujar Andy kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Bitcoin Tembus US$ 87.000, Arus Dana Institusional Jadi Penopang Selain itu, sentimen terhadap aset berisiko, likuiditas global, serta perubahan posisi investor di pasar derivatif turut memengaruhi harga. Aktivitas investor ritel juga masih belum sekuat siklus sebelumnya, sehingga arus dana institusional menjadi semakin dominan dalam pergerakan pasar. “Ketika arus dana institusional semakin dominan, pergerakan harga menjadi lebih sensitif karena volume transaksi belum sebesar saat terjadi rally atau pantulan harga yang kuat pada siklus sebelumnya,” tutur Andy. Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed secara historis menjadi tekanan bagi aset berisiko seperti kripto. Sebelum keputusan The Fed, Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 8% dan terjadi likuidasi posisi leverage dalam jumlah besar. Kondisi tersebut berpotensi membuat posisi pasar lebih sehat. Namun, apabila inflasi AS kembali di atas ekspektasi dan kenaikan suku bunga berlanjut, harga kripto masih berpotensi terkoreksi. Hingga akhir 2026, pergerakan Bitcoin dan Ether akan bergantung pada arah kebijakan moneter The Fed dan sentimen pasar. Dalam skenario positif, Bitcoin berpeluang menguji US$ 100.000 jika mampu menembus dan bertahan di atas resistance US$ 93.000.
Baca Juga: Dominasi Bitcoin Capai 60%, Pasar Kripto Masih dalam Fase Bitcoin Season Sementara Ether perlu melewati US$ 3.000 terlebih dahulu sebelum berpeluang menuju US$ 3.280-US$ 3.400. Sebaliknya, apabila tekanan dari inflasi dan suku bunga kembali meningkat, Bitcoin berpotensi menguji support US$ 82.000 dan US$ 75.000. Ether memiliki support di US$ 2.560 dan US$ 2.350. Level tersebut masih bersifat indikatif dan dapat berubah mengikuti perkembangan data makro serta arah likuiditas global.
Untuk investor ritel, Andy menyarankan strategi dollar-cost averaging (DCA), yakni membeli aset secara rutin dengan nominal tetap. Strategi ini membuat investor tidak perlu menebak waktu terbaik untuk masuk sekaligus membantu mengendalikan harga rata-rata pembelian. Ia menambahkan, keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada analisis dan pemahaman terhadap kondisi pasar serta karakteristik aset kripto. Investor juga perlu memperhatikan volatilitas dan menyesuaikan risiko dengan profil serta strategi masing-masing.
Baca Juga: Bitcoin Tembus Level US$ 85.000, Ini yang Terjadi di Pasar Futures Kripto Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News