KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kripto menghadapi tekanan sepanjang Oktober 2026. Ekspektasi kenaikan harga yang dikenal dengan istilah Uptober tidak terealisasi, seiring meningkatnya tekanan jual, berkurangnya aliran dana institusi, dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Dalam 30 hari terakhir, harga Bitcoin terkoreksi 9,43% ke kisaran rata-rata US$ 76.813. Sementara itu, Ethereum mencatat penurunan lebih dalam sebesar 16,43% dengan harga rata-rata US$ 2.251. Crypto Researcher Reku, Andri Fauzan mengatakan, tekanan terhadap kedua aset kripto tersebut dipengaruhi oleh arus keluar dana institusi, ketidakpastian arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), serta aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Ethereum mengalami koreksi lebih dalam karena volatilitasnya lebih tinggi dan lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
“Ethereum turun lebih tajam karena sifatnya sebagai aset high-beta yang lebih sensitif terhadap risk sentiment, outflow ETF ETH yang lebih konsisten negatif, dan rotasi modal ke Bitcoin sebagai aset yang relatif lebih defensif di dalam pasar kripto,” ujar Andri dalam tanggapan tertulis kepada KONTAN, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 18.160 Per Dolar AS Hari Ini (3/11) Tekanan pasar kripto juga tercermin dari kinerja produk exchange-traded fund (ETF) spot kripto di AS. Sepanjang Oktober, ETF Bitcoin spot mencatatkan arus keluar bersih sekitar US$ 515 juta. Adapun ETF Ethereum spot mengalami tekanan lebih besar dengan arus keluar bersih mencapai US$ 1,61 miliar. Selain faktor institusi, insiden keamanan yang melibatkan Binance pada akhir Oktober turut memperburuk sentimen pasar. Peristiwa tersebut memicu gelombang likuidasi di pasar berjangka sekaligus meningkatkan tekanan jual. Dampak insiden tersebut terutama terlihat dari lonjakan volatilitas dan penurunan kepercayaan investor dalam jangka pendek. Andri menilai, kasus Binance memperkuat tekanan yang sebelumnya telah terbentuk akibat arus keluar dana ETF dan ketidakpastian global. Namun, dampaknya sejauh ini lebih berkaitan dengan sentimen pasar dibandingkan perubahan fundamental industri kripto.
Proyeksi harga Bitcoin dan Ethereum hingga 2027
Memasuki akhir 2026, pergerakan pasar kripto diperkirakan akan dipengaruhi oleh pemulihan aliran dana institusi, perkembangan kebijakan moneter The Fed, serta kepercayaan investor terhadap keamanan bursa kripto. “Pemulihan harga akan bergantung pada konsistensi arus masuk ETF, arah kebijakan The Fed yang lebih akomodatif, serta pulihnya kepercayaan terhadap stabilitas bursa kripto,” kata Andri. Dalam skenario dasar, Andri memproyeksikan harga Bitcoin pada akhir 2026 berada di kisaran US$ 85.000 hingga US$ 100.000. Sementara itu, harga Ethereum diperkirakan bergerak dalam rentang US$ 2.600 hingga US$ 3.200 pada periode yang sama. Untuk awal 2027, Bitcoin berpeluang mencapai kisaran US$ 110.000 hingga US$ 130.000.
Baca Juga: Austindo Nusantara (ANJT) Buka Suara Soal Surat dari Singapura ke First Resources Adapun peluang penguatan Ethereum masih bergantung pada rotasi modal investor ke aset altcoin. Andri menilai, peluang Ethereum mencetak rekor harga tertinggi baru atau all-time high (ATH) lebih realistis terjadi pada 2027.
Strategi investasi kripto di tengah volatilitas
Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, Andri menyarankan investor untuk menerapkan strategi akumulasi aset secara bertahap dan tetap mengutamakan manajemen risiko. Menurutnya, investor perlu memperhatikan perkembangan pasar dalam beberapa bulan ke depan, terutama setelah insiden besar yang memengaruhi sentimen industri kripto. “Fokus pada horizon 3–6 bulan ke depan karena volatilitas masih tinggi pasca-insiden besar, dengan manajemen risiko sebagai prioritas utama,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News