KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar aset kripto masih berada dalam tekanan. Sepanjang Juni 2026, dua aset kripto terbesar, yaitu Bitcoin dan Ethereum, kompak mencatat koreksi dua digit seiring meningkatnya tekanan dari sentimen makroekonomi hingga arus keluar dana investor institusi. Berdasarkan data Bloomberg, harga Bitcoin terkoreksi 20,68% sepanjang Juni, dari US$ 73.536 menjadi US$ 58.327. Secara
year to date (YtD), Bitcoin telah melemah 34,04%. Koreksi yang lebih dalam terjadi pada Ethereum. Sepanjang Juni, harga Ethereum turun 21,69% dari US$ 1.997 menjadi US$ 1.563. Bahkan, secara YtD aset kripto terbesar kedua tersebut telah terkoreksi 47,36%.
Baca Juga: Indocement (INTP) Masih Dibayangi Kelebihan Pasokan Semen, Begini Prospek Sahamnya Mengacu laman CoinMarketCap pada Rabu (1/7) pukul 15.58 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 58.883 atau turun 0,55% dibanding sehari sebelumnya. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan di level US$ 1.579, melemah 0,15% secara harian. Analis Reku, Andri Fauzan, menilai pelemahan Bitcoin dan Ethereum sepanjang Juni dipicu kombinasi sejumlah sentimen negatif. Mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong inflasi dan memperkecil peluang penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed), hingga derasnya arus keluar dana dari produk ETF Bitcoin spot. "
Outflow spot ETF Bitcoin pada Juni mencapai lebih dari US$ 4 miliar. Di sisi lain, rumor serta aksi penjualan Bitcoin oleh Strategy juga memperburuk sentimen
risk-off di pasar," ujar Andri kepada Kontan, Rabu (1/7/2026). Menurut Andri, Ethereum mengalami koreksi lebih dalam dibandingkan Bitcoin karena menghadapi tekanan struktural yang lebih besar. Ia menjelaskan, ETF Ethereum mencatat arus keluar dana selama 17 hari berturut-turut pada Juni, sehingga menambah tekanan jual terhadap aset tersebut. Selain itu, belum adanya dukungan signifikan dari treasury korporasi, pendapatan jaringan Layer-2 Ethereum yang tergerus, serta mundurnya peluncuran pembaruan Glamsterdam ke kuartal III-2026 turut membebani pergerakan harga Ethereum. Meski demikian, Andri menilai pasar kripto saat ini belum memasuki fase
capitulation penuh. "Tekanan yang terjadi lebih mencerminkan aksi jual berkepanjangan akibat
outflow institusional dan
selling at loss di sejumlah altcoin, belum disertai lonjakan volume panik seperti yang biasanya terjadi pada fase dasar siklus," kata Andri.
Baca Juga: IHSG Rebound 0,92% ke 5.695 pada Rabu (1/7), CUAN, MBMA, BRPT Top Gainers LQ45 Untuk semester II-2026, Andri memperkirakan pasar kripto masih akan bergerak volatil. Ia melihat potensi tekanan lanjutan pada kuartal III sejalan dengan pola siklus pasca-halving setelah Bitcoin sempat mencetak rekor di kisaran US$ 126.000 pada Oktober tahun lalu.
Namun, peluang pemulihan dinilai masih terbuka menjelang akhir tahun apabila kondisi makroekonomi membaik dan aliran dana ke ETF kripto kembali meningkat. Di tengah kondisi tersebut, Andri menyarankan investor tetap menerapkan strategi
dollar cost averaging (DCA) secara disiplin dan berfokus pada prospek jangka panjang. "Investor juga perlu mencermati arus ETF harian, indikator RSI yang memasuki area
oversold, level
support Bitcoin di kisaran US$ 58.000-US$ 60.000, serta perkembangan kebijakan The Fed dan dinamika geopolitik global," tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News