KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kripto kembali menunjukkan momentum pemulihan yang kuat setelah sempat bergejolak di pertengahan tahun 2026. Mengutip data
CoinMarketCap, Bitcoin (BTC) menguat 4,32% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 80.837,22 atau melesat 26,14% dalam sepekan, sementara Ethereum (ETH) berada di posisi US$ 2.520,05 dengan kenaikan mingguan mencapai 32,98%. Di antara dua aset kripto terbesar tersebut, Bitcoin dinilai masih memiliki prospek reli yang lebih kokoh dan stabil dibandingkan dengan Ethereum hingga akhir tahun.
BTC diuntungkan oleh narasinya sebagai "emas digital" yang lebih tepercaya bagi investor institusional, disokong oleh arus dana ETF spot yang relatif solid serta katalis makroekonomi Amerika Serikat (AS). Sementara itu, Ethereum sempat tertekan akibat
outflow ETF dan sentimen pasar yang lebih sensitif. Meski begitu, ETH memiliki potensi kejutan tersendiri. Peluang persetujuan skema staking pada ETF Ethereum oleh SEC, kemajuan upgrade jaringan seperti Glamsterdam dan Fusaka, hingga dominasi di sektor Real World Assets (RWA) menjadi amunisi penting bagi ETH untuk menyusul. CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai perbedaan mendasar kedua aset ini terletak pada tingkat kepastian serta besaran potensi penguatannya. "Bitcoin unggul dari sisi kepastian momentum, sementara Ethereum menyimpan potensi upside lebih besar secara persentase jika sentimen pendukungnya berhasil terwujud," terang Yudhono kepada Kontan, Senin (24/8/2026). Sentimen utama penggerak pasar kripto saat ini sangat bergantung pada arah kebijakan politik dan regulasi di AS. Dukungan Presiden Trump terhadap industri kripto serta kelanjutan RUU CLARITY Act yang menghadapi voting krusial di Senat pada 15 September menjadi penentu kepastian hukum aset digital. Dorongan ini terbukti memicu
short squeeze dan lonjakan harga tidak hanya pada BTC, tetapi juga pada altcoin seperti Ethereum, XRP, dan Dogecoin. Dari sisi makro, intervensi Treasury AS dalam pembelian kembali obligasi jangka panjang turut menekan
yield dan mendorong arus modal ke aset berisiko, mendampingi arah kebijakan suku bunga The Fed. Melihat tingginya volatilitas pasar, investor disarankan menerapkan strategi yang lebih disiplin seperti
dollar-cost averaging (DCA), melakukan diversifikasi portofolio, menetapkan batas risiko (stop-loss), serta menghindari
leverage berlebihan demi meminimalkan risiko likuidasi saat pasar bergerak liar. Hingga akhir tahun, prospek bitcoin diproyeksikan masih cenderung positif meski bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Setelah sempat terkoreksi ke kisaran US$ 57.600–66.000 dari rekor tertinggi US$ 126.173 pada Oktober 2025, pemulihan BTC kini disokong oleh intervensi Treasury AS, sentimen regulasi, serta penutupan posisi
bearish (short squeeze) senilai lebih dari US$ 3 miliar.
Bitcoin dinilai masih berpeluang melanjutkan tren pemulihan menuju level US$ 100.000 hingga akhir 2026, selama mampu menjaga area pertahanan penting di kisaran US$ 70.000–US$ 80.000. Namun, Yudhono mengingatkan bahwa target tersebut bukanlah angka pasti mengingat dinamika pasar yang sangat tinggi. "Jika hambatan makroekonomi dan resistensi teknikal terus berlanjut, sejumlah model konservatif bahkan masih membuka risiko penurunan kembali ke kisaran US$ 45.000–58.000," tutup Yudhono. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News