KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto, khususnya Bitcoin dan Ethereum, masih menghadapi tekanan setelah terkoreksi sepanjang Oktober 2026. Ketidakpastian ekonomi global, kekhawatiran terhadap arah suku bunga Amerika Serikat (AS), serta berkurangnya minat investor institusi menjadi sejumlah faktor yang membebani pergerakan kedua aset tersebut. Dalam 30 hari terakhir, Bitcoin terkoreksi 9,43% dengan harga rata-rata sekitar US$ 76.813. Sementara itu, Ethereum melemah lebih dalam sebesar 16,43% dengan harga rata-rata sekitar US$ 2.251. Secara bulanan, Bitcoin turun sekitar 8,6% dan Ethereum sekitar 16,7% sepanjang Oktober. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis mengatakan, koreksi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Inflasi AS yang masih menjadi perhatian serta keputusan The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di level 3,75%–4,00% pada 28 Oktober turut menekan minat investor terhadap aset berisiko. Baca Juga: Banyak Melanggar Aturan, OJK Cabut Izin Pratama Capital Assets Management Selain itu, ketidakpastian politik menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026 serta belum jelasnya arah kebijakan regulasi aset kripto turut membuat investor lebih berhati-hati. “Inflasi AS yang masih menjadi perhatian dan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75%–4,00% pada 28 Oktober membuat investor lebih berhati-hati,” ujar Yudhono dalam tanggapan tertulis kepada KONTAN, Selasa (3/11). Menurut Yudhono, penurunan Ethereum yang lebih dalam dibandingkan Bitcoin juga dipengaruhi oleh arus dana keluar dari produk exchange traded fund (ETF) spot di AS. Sepanjang Oktober, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$ 515 juta. Adapun ETF Ethereum spot membukukan arus keluar lebih besar, yakni sekitar US$ 1,61 miliar. Arus keluar tersebut mengindikasikan investor institusi mengurangi eksposur terhadap Ethereum secara lebih agresif. Selain itu, volatilitas historis Ethereum pada Oktober tercatat sekitar 36,4%, lebih tinggi dibandingkan Bitcoin yang sebesar 28,2%. Kondisi ini membuat pergerakan harga Ethereum cenderung lebih tajam ketika pasar mengalami tekanan. Tekanan pasar juga bertambah setelah insiden keamanan Binance pada 29–30 Oktober. Meski demikian, Yudhono menilai peristiwa tersebut bukan penyebab utama koreksi karena pelemahan harga telah berlangsung sebelumnya. Insiden itu menjadi faktor tambahan yang memperburuk sentimen dan kepercayaan investor terhadap industri kripto. “Insiden keamanan Binance pada 29–30 Oktober dapat dipandang sebagai faktor tambahan yang memperburuk sentimen menjelang akhir bulan, bukan sebagai penyebab utama koreksi yang sudah berlangsung sebelumnya,” jelasnya. Di tengah tekanan tersebut, Yudhono melihat peluang pemulihan harga Bitcoin dan Ethereum hingga akhir 2026 maupun awal 2027. Namun, pemulihan tersebut bergantung pada meredanya tekanan jual, membaiknya kondisi makroekonomi, serta kembalinya arus dana institusional ke pasar kripto. Dalam skenario optimistis, harga Bitcoin berpotensi mencapai US$ 90.000–US$ 100.000 pada akhir 2026 dan US$ 100.000–US$ 120.000 pada awal 2027. Sementara itu, Ethereum berpeluang bergerak di kisaran US$ 3.000–US$ 4.000 pada kedua periode tersebut. Sebaliknya, jika tekanan pasar berlanjut, Bitcoin berisiko bergerak di kisaran US$ 60.000–US$ 70.000 hingga akhir 2026 atau awal 2027. Adapun Ethereum berpotensi turun ke rentang US$ 1.700–US$ 2.100. Yudhono menambahkan, arah kebijakan suku bunga AS, arus dana ETF, serta pemulihan kepercayaan terhadap keamanan bursa kripto akan menjadi sejumlah katalis yang menentukan pergerakan harga ke depan. Di tengah volatilitas pasar, investor disarankan menerapkan strategi pembelian secara bertahap atau dollar-cost averaging (DCA), menyesuaikan investasi dengan profil risiko, serta menjaga diversifikasi portofolio. “Investor juga perlu menghindari penggunaan leverage berlebihan, menjaga diversifikasi portofolio, serta memastikan dana yang digunakan bukan dana kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.
Bitcoin dan Ethereum Masih Tertekan, Begini Proyeksinya hingga Awal 2027
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto, khususnya Bitcoin dan Ethereum, masih menghadapi tekanan setelah terkoreksi sepanjang Oktober 2026. Ketidakpastian ekonomi global, kekhawatiran terhadap arah suku bunga Amerika Serikat (AS), serta berkurangnya minat investor institusi menjadi sejumlah faktor yang membebani pergerakan kedua aset tersebut. Dalam 30 hari terakhir, Bitcoin terkoreksi 9,43% dengan harga rata-rata sekitar US$ 76.813. Sementara itu, Ethereum melemah lebih dalam sebesar 16,43% dengan harga rata-rata sekitar US$ 2.251. Secara bulanan, Bitcoin turun sekitar 8,6% dan Ethereum sekitar 16,7% sepanjang Oktober. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis mengatakan, koreksi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Inflasi AS yang masih menjadi perhatian serta keputusan The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di level 3,75%–4,00% pada 28 Oktober turut menekan minat investor terhadap aset berisiko. Baca Juga: Banyak Melanggar Aturan, OJK Cabut Izin Pratama Capital Assets Management Selain itu, ketidakpastian politik menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026 serta belum jelasnya arah kebijakan regulasi aset kripto turut membuat investor lebih berhati-hati. “Inflasi AS yang masih menjadi perhatian dan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75%–4,00% pada 28 Oktober membuat investor lebih berhati-hati,” ujar Yudhono dalam tanggapan tertulis kepada KONTAN, Selasa (3/11). Menurut Yudhono, penurunan Ethereum yang lebih dalam dibandingkan Bitcoin juga dipengaruhi oleh arus dana keluar dari produk exchange traded fund (ETF) spot di AS. Sepanjang Oktober, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$ 515 juta. Adapun ETF Ethereum spot membukukan arus keluar lebih besar, yakni sekitar US$ 1,61 miliar. Arus keluar tersebut mengindikasikan investor institusi mengurangi eksposur terhadap Ethereum secara lebih agresif. Selain itu, volatilitas historis Ethereum pada Oktober tercatat sekitar 36,4%, lebih tinggi dibandingkan Bitcoin yang sebesar 28,2%. Kondisi ini membuat pergerakan harga Ethereum cenderung lebih tajam ketika pasar mengalami tekanan. Tekanan pasar juga bertambah setelah insiden keamanan Binance pada 29–30 Oktober. Meski demikian, Yudhono menilai peristiwa tersebut bukan penyebab utama koreksi karena pelemahan harga telah berlangsung sebelumnya. Insiden itu menjadi faktor tambahan yang memperburuk sentimen dan kepercayaan investor terhadap industri kripto. “Insiden keamanan Binance pada 29–30 Oktober dapat dipandang sebagai faktor tambahan yang memperburuk sentimen menjelang akhir bulan, bukan sebagai penyebab utama koreksi yang sudah berlangsung sebelumnya,” jelasnya. Di tengah tekanan tersebut, Yudhono melihat peluang pemulihan harga Bitcoin dan Ethereum hingga akhir 2026 maupun awal 2027. Namun, pemulihan tersebut bergantung pada meredanya tekanan jual, membaiknya kondisi makroekonomi, serta kembalinya arus dana institusional ke pasar kripto. Dalam skenario optimistis, harga Bitcoin berpotensi mencapai US$ 90.000–US$ 100.000 pada akhir 2026 dan US$ 100.000–US$ 120.000 pada awal 2027. Sementara itu, Ethereum berpeluang bergerak di kisaran US$ 3.000–US$ 4.000 pada kedua periode tersebut. Sebaliknya, jika tekanan pasar berlanjut, Bitcoin berisiko bergerak di kisaran US$ 60.000–US$ 70.000 hingga akhir 2026 atau awal 2027. Adapun Ethereum berpotensi turun ke rentang US$ 1.700–US$ 2.100. Yudhono menambahkan, arah kebijakan suku bunga AS, arus dana ETF, serta pemulihan kepercayaan terhadap keamanan bursa kripto akan menjadi sejumlah katalis yang menentukan pergerakan harga ke depan. Di tengah volatilitas pasar, investor disarankan menerapkan strategi pembelian secara bertahap atau dollar-cost averaging (DCA), menyesuaikan investasi dengan profil risiko, serta menjaga diversifikasi portofolio. “Investor juga perlu menghindari penggunaan leverage berlebihan, menjaga diversifikasi portofolio, serta memastikan dana yang digunakan bukan dana kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.
TAG: